Deklarasi ODF di Desa Merapi, Rupinus: Pendekatan Humanis Kunci Sukses Stop BABS

Editor : Redaksi
Deklarasi ODF di Desa Merapi.
Sekadau (Suara Kalbar) - Pemerintah Desa Merapi Kecamatan Sekadau Hilir menggelar kegiatan Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembaranagan. Deklarasi dihadiri oleh Bupati Sekadau, Anggota DPRD Sekadau Paulus Subarno, Herman dan Y. Sabas serta dihadiri oleh SKPD yaitu Dinas Kesehatan PP dan KB, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial P3A, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata, Camat Sekadau Hilir, Kapolsek Sekadau Hilir dan Manager WVI, Kamis (10/9/2020) di aula serbag guna kantor Desa Merapi.

Bupati Sekadau, Rupinus salah satu wujud nyata pembangunan berwawasan kesehatan lingkungan adalah penyiapan desa sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dengan 5 pilar yaitu Stop buang air besar sembarangan, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir,  mengelola air minum dan makanan rumah tangga yang aman, mengelola sampah rumah tangga dengan aman dan mengelola limbah cair rumah tangga dengan baik.

Faktor lingkungan yang tidak bersih dapat memicu timbulnya penyakit. Untuk itu, kebiasaan BABS yang ada dimasyarakat bisa dihilangkan dengan pendekatan yang humanis karena merubah kebiasaan masyarakat MCK di sungai seperti yang biasa dilakukan masyarakat pinggiran sungai memang tidak mudah.

"Dengan sudah di ODF, maka masyarakat di Merapi bisa hidup sehat. Ini harus dijaga dan dipertahankan. Kesehatan menjadi salah satu prioritas Pemerintah Daerah menuju Sekadau yang maju dan bisa bersaing dengan Desa yang ada di daerah lain," ucapnya.

Desa - desa yang belum di ODF secara bertahap akan terus dipersiapkan. Bupati menyebut Sekadau masuk peringkat 5 dari 14 Kabupaten kota yang sudah menyelenggarakan ODF di Kalbar, hal ini menurutnya hasil kerjasama yang baik dari pusat hingga ke daerah termasuk masyarakat itu sendiri. Pada 2019 di Sekadau masih ada 4 Desa kategori sangat tertinggal, Rupinus berharap pada tahun 2020 sudah tidak ada lagi.

Dengan ODF dapat menurunkan kejadian penyakit berbasis lingkungan diantaranya penyakit diare, thypoid dan cacingan. Penyakit tersebut dapat menyebabkan timbulnya kondisi stunting pada bayi dan balita.

"Untuk mencapapai kehidupan yang sehat harus didukung lingkungan yang sehat. Salah satu upaya mewujudkan itu dengan cara stop buang air besar sembarangan," tegasnya.

Bupati menyebut pembangunan yang sudah ada khususnya di Desa Merapi sudah sangat baik. Maka ia berharap masyarakat harus bersama - sama bisa melanjutkan pembangunan yang ada baik dibidang kesehatan, ekonomi dan infrastruktur.

"Masih banyak PR yang perlu diselesaikan disemua bidang, kedepan pembangunan harus tetap dilanjutkan " ajaknya.

Anggota DPRD Sekadau, Herman mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Pemdes Merapi melakukan deklarasi BABS. Menurutnya tantangan masyarakat khususnya di pinggiran sungai memang cukup berat karena kebiasaan MCK dilakukan disungai dari dulunya.

"Saya paham kondisi di Merapi, maka dengan adanya deklarasi ini menjadi acuan bahwa sebenarnya Desa Merapi sudah sangat maju dan berkembang," ungkapnya.

Kepala Desa Merapi, Saleh SY menjelaskan sejatinya kegiatan deklarasi diwacanakan pada tahun 2019, namun baru bisa terlaksana di tahun 2020. Kades mengucapkan terimakasih kepada Bupati dan Wakil Bupati atas dukungannya sehingga kegiatan deklarasi STOP BABS bisa terselenggara.

"Terimakasih pak Bupati, dengan adanya deklarasi ini kami berharap masyarakat bisa sehat dan kebiasaan BABS sedikit demi sedikit bisa hilang," ujarnya.

Kades menyebut Desa Merapi terdiri dari 3 Dusun yaitu Dusun Merapi, Dusun Lisuk Raya dan Dusun Nanga Gonis. Namun saat ini deklarasi hanya dilakukan untuk Dusun Merapi dan Dusun Lisuk Raya. Untuk Dusun Nanga Gonis akan diupayakan pada tahun 2021 mendatang.  Adapun jumlah Kepala Keluarga yang di deklarasikan yaitu sebanyak 567 KK.

Penulis : Tambong Sudiyono
Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini