Begini Cara Google Maps Prediksi Waktu Kedatangan Pengguna
![]() |
| Google Maps di ponsel Android. [Shutterstock] |
Suara Kalbar – Google
Maps merupakan salah satu layanan paling banyak digunakan dan
kemampuannya untuk memprediksi kemacetan lalu lintas, membuatnya
diperlukan oleh banyak pengemudi.
Setiap hari, lebih dari 1 miliar
kilometer jalan dilalui dengan bantuan aplikasi. Namun dalam unggahan
baru Google, fitur tersebut menjadi jauh lebih akurat berkat alat
pembelajaran mesin dari DeepMind, lab kecerdasan buatan (AI) di London
yang dimiliki oleh perusahaan induk Google, Alphabet.
Dalam postingan blog, peneliti Google dan
DeepMind menjelaskan bagaimana mengambil data dari berbagai sumber dan
memasukkannya ke dalam model pembelajaran mesin untuk memprediksi arus
lalu lintas.
Data ini mencakup informasi lalu lintas
langsung yang dikumpulkan secara anonim dari perangkat Android, data
lalu lintas historis, informasi seperti batas kecepatan dan lokasi
konstruksi dari pemerintah daerah, serta faktor-faktor seperti kualitas,
ukuran, dan arah jalan tertentu.
![Google Maps. [Google Indonesia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/02/09/76750-google-maps.jpg)
Sehingga
dalam perkiraan Google, jalan beraspal akan “mengalahkan” jalan yang
tidak beraspal, sementara algoritme akan memutuskan terkadang lebih
cepat untuk mengambil bentangan jalan ray yang lebih panjang daripada
melewati jalan yang berkelok-kelok.
Semua informasi ini dimasukkan ke dalam
jaringan saraf yang dirancang oleh DeepMind yang memilih pola dalam data
dan menggunakannya untuk memprediksi lalu lintas di masa mendatang.
Google mengatakan model barunya telah
meningkatkan akurasi ETA real time Google Maps hingga 50 persen di
beberapa kota. Google juga mencatat bahwa itu harus mengubah data yang
digunakan untuk membuat prediksi ini setelah wabah virus Corona
(Covdi-19) dan perubahan penggunaan jalan selanjutnya.
“Kami melihat penurunan lalu lintas di
seluruh dunia hingga 50 persen saat lockdown dimulai pada awal tahun
2020. Untuk memperhitungkan perubahan mendadak ini, kami baru-baru ini
memperbarui model agar menjadi lebih gesit, secara otomatis
memprioritaskan pola lalu lintas historis dari dua hingga empat minggu
terakhir,” kata Johann Lau, manajer produk Google Maps, seperti dikutip The Verge, Jumat (11/9/2020).
Model tersebut bekerja dengan membagi
peta menjadi hal yang disebut Google “supersegments”, kelompok jalan
berdekatan yang berbagi volume lalu lintas. Masing-masing dipasangkan
dengan jaringan neural individual yang membuat prediksi lalu lintas
untuk sektor tersebut.
Tidak ada kejelasan seberapa besar
“supersegments” ini, tetapi Google mencatat bahwa itu memiliki ukuran
dinamis yang dapat berubah seiring lalu lintas dan masing-masing
menggunakan data “terabyte”.
Sumber : Suara.com, Selengkapnya DISINI





