Badan Antikorupsi Pakistan Tangkap Pemimpin Oposisi di Parlemen

Publisher

Shehbaz Sharif, saudara mantan perdana menteri Pakistan Nawaz Sharif dan pemimpin Pakistan Muslim League-Nawaz (PML-N), didampingi pengacara dan para pendukungnya setelah Pengadilan Tinggi menolak uang jaminan dalam kasus pencucian uang, di Lahore, Pakistan, 28 September 2020. (Foto: VOA)

Suara Kalbar - Badan antikorupsi di Pakistan, Senin (28/9), menangkap pemimpin kelompok oposisi di parlemen, Shehbaz Sharif, setelah pengadilan tinggi menolak permohonan banding yang diajukannya dalam kasus pencucian uang.

Sharif, yang merupakan Presiden Liga Muslim Pakistan PML-N, dibawa ke penjara dari gedung pengadilan di bagian timur kota Lahore. Istri dan anak-anaknya juga dituduh terlibat dalam kasus itu. Sesaat sebelum penangkapannya, Sharif membantah melakukan kesalahan sebagai kepala eksekutif propinsi Punjab, daerah dengan penduduk terpadat di Pakistan.

Abangnya, Perdana Menteri Nawaz Sharif, digulingkan dari kekuasaan pada 2017 setelah dinyatakan bersalah oleh pengadilan karena memiliki aset di luar sumber pendapatan yang diketahui. Nawaz divonis tujuh tahun penjara. Mantan perdana menteri itu menjalani pengobatan medis di London di mana keluarga Sharif memiliki properti-properti mewah, yang menjadi subyek kasus yang diadili di Pakistan.

Langkah hukum terhadap Sharif pada Senin (28/9) hanya berselang beberapa jam setelah Asif Ali Zardari, mantan presiden dan pemimpin kelompok oposisi lainnya, juga didakwa atas kasus pencucian uang.

Dalam sidang pengadilan di Islamabad itu, adik Zardari, Faryal Talpur dan 13 orang lainnya juga dikenai dakwaan. Semuanya mengaku tidak bersalah.

Pejabat-pejabat antikorupsi mengatakan tuduhan-tuduhan itu berasal dari pencucian uang lewat rekening bank dan perusahaan palsu di Pakistan. Aliran keuangan ilegal itu terjadi ketika Zardari menjabat sebagai presiden antara 2008-2013. Partai Rakyat Pakistan pimpinannya ketika itu memimpin kelompok koalisi. 

Sumber: VOA


Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini