Ummul Quro, Pondok Pesantren di Purun yang Bernuansa Saudi Arabia

Editor : Redaksi II
 Kepala Kementerian Agama Mempawah, Mi'rad, bersama Kasi PD dan Pontren, Mulyadi, ketika mengunjungi Pondok Pesantren Ummul Quro di Desa Sungai Purun Kecil, Kecamatan Sungai Pinyuh | Suarakalbar: Dian Sastra.
Mempawah (Suara Kalbar)-Pondok pesantren (Pontren) yang berada di kaki bukit Gambir, Desa Sungai Purun Kecil, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, itu bernama Ummul Quro.

Nama Ummul Quro diadopsi dari sebuah pesantren terkenal di Mekkah, Saudi Arabia, karena pendiri pondok pesantren Ummul Quro, Desa Sungai Purun Kecil, yakni KH. Kholili, pernah menimba ilmu di tanah suci.

KH Kholili dikenal sebagai kyai yang kharismatik. Ia ulama yang mumpuni ilmu agamanya. Awalnya, ia belajar di Pontren Lirboyo, Kediri, Jawa Tengah. Setelah itu, melanjutkan pendidikan di Pesantren Ummul Quro Mekkah.

Selesai memperdalam ilmu agama, KH Kholili muda, memutuskan pulang ke kampung halaman, di Desa Sungai Purun Kecil. Ia mencari lokasi strategis untuk mendirikan pesantren. Akhirnya, dipilih lah kaki bukit Gambir.

“Abah (ayah, red) membangun pondok pesantren ini 20 tahun yang lalu, sepulangnya dari belajar di Mekkah, Saudi Arabia. Dan nama Ummul Quro dilekatkan abah sebagai nama pondok di sini hingga sekarang,” ujar Ustadz Afifuddin Aqil, putra almarhum KH. Kholili.

Dalam mendidik para santrinya, KH Kholili menerapkan pola almamater selama di Ummul Quro Mekkah. Sampai ia meninggal dunia empat tahun lalu, pola ini tetap diteruskan anak kandungnya. Ya, estafet kepemimpinan sekarang dilanjutkan Afifuddin Aqil.

Karenanya, meski pondok pesantren ini berada di kaki bukit Gambir, Desa Sungai Purun Kecil, tapi nuansanya amat kental Saudi Arabia. Para santrinya sudah banyak yang berkiprah di Kabupaten Mempawah, bahkan di Kalimantan Barat.

“Saat ini, yang mondok di pesantren kami berjumlah 300 orang. Alhamdulillah, alumnus Ummul Quro banyak yang mengabdikan ilmunya di Kabupaten Mempawah dan di berbagai kabupaten/kota di Kalbar,” jelas Afifuddin.

Kepala Kementerian Agama Kabupaten Mempawah, Mi’rad, sangat terkesan dengan pola pendidikan di Ummul Quro ini. Ia mengatakan, yang diutamakan adalah pembelajaran kitab kuning atau klasik asli dari Mekkah, Saudi Arabia.

“Ditambah lagi dengan lokasi pontren yang berada di kaki bukit dan jauh dari hiruk-pikuk suasana kota, jadi santri Ummul Quro dapat lebih tenang dan berkonsentrasi dalam menyerap pelajaran secara maksimal,” ungkap Mi’rad.

Ia juga mengapresiasi pola kombinasi pendidikan formal yang ada di Ummul Quro. Yakni pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan SMP untuk tingkat dasar, serta SMU untuk tingkat menengah, sehingga menjadi bekal santri untuk kembali ke masyarakat setelah tamat menimba ilmu agama di pesantren ini.

Penulis : Dian Sastra
Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini