Tujuh Dimensi Tangguh agar Kakek-Nenek Bisa Beradaptasi terhadap Proses Penuaan

Editor : Redaksi II
Wakil Bupati Mempawah membuka kegiatan penguatan pelayanan ramah lansia di Wisma Chandramidi Mempawah | Suarakalbar: Dian Sastra.
Mempawah (Suara Kalbar)-Wakil Bupati Mempawah, Muhammad Pagi, membuka kegiatan Sosialisasi Tujuh Dimensi Lansia Tangguh, serta Orientasi Pendampingan Perawatan Jangka Panjang (PJP) bagi Lansia, di Wisma Chandramidi Mempawah, Kamis (13/08/2020).

Kegiatan tersebut dilaksanakan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Kabupaten Mempawah dan didukung BKKBN Perwakilan Kalimantan Barat. Turut hadir Kabid Pengendalian Penduduk BKKBN Perwakilan Kalbar, Gugus Suprayitno.

Dilaksanakan selama sehari dan diikuti 20 peserta, terdiri dari 10 orang Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan 10 Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL).

Muhammad Pagi mengatakan, kegiatan yang mengangkat tema “Penguatan Pelayanan Ramah Lansia Melalui Tujuh Dimensi Lansia Tangguh dan Orientasi Pendampingan PJP bagi Lansia”, patut didukung agar dapat berjalan sesuai yang menjadi harapan bersama. Mencermati tema tersebut ada dua poin utama yang perlu digaris bawahi.

Pertama, tujuh dimensi lansia tangguh dan kedua, pendampingan perawatan jangka panjang bagi lansia. Poin pertama, tujuh dimensi lansia tangguh antara lain mencakup dimensi spiritual, ini berkenaan dengan fungsi agama; dimensi sosial kemasyarakatan, berkenaan dengan fungsi sosial budaya dan fungsi perlindungan.

Kemudian dimensi emosional, berkenaan dengan fungsi cinta kasih; dimensi fisik, berkenaan dengan fungsi reproduksi; dimensi intelektual berkenaan dengan fungsi sosialisasi dan pendidikan; dimensi profesional vokasional, ini berkenaan dengan fungsi ekonomi dan dimensi lingkungan, ini berkenaan dengan fungsi pembinaan lingkungan.

“Melalui ketujuh indikator dimensi lansia tangguh tersebut, harapan kita seseorang atau kelompok lansia mampu beradaptasi terhadap proses penuaan secara positif, sehingga mencapai masa tua berkualitas dalam lingkungan yang nyaman, sehat secara fisik, sosial dan mental melalui siklus hidupnya, aktif, produktif dan mandiri,” katanya.

Poin kedua, pendampingan PJP bagi lansia. Maksudnya memberikan pemahaman dan keterampilan dalam pendampingan serta perawatan jangka panjang bagi anggota keluarga yang mempunyai lansia dan sudah tidak dapat merawat dirinya sendiri, meningkatkan derajat kesehatan lansia untuk menjadi lansia yang sehat, mandiri, aktif, produktif dan berdaya guna bagi keluarga dan masyarakat.

“Oleh karena itu, diperlukanlah peran dari kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL). Keberadaan kelompok ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga lansia untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dalam rangka mewujudkan lansia tangguh,” katanya.

Ia berharap, keberadaan program pendampingan PJP bagi lansia di kelompok BKL, maka keluarga yang menjadi sasaran dapat memahami kebutuhan lansia untuk PJP berdasarkan indikasi perawatan, memahami model PJP yang dapat dilakukan oleh keluarga melalui kelompok BKL, melaksanakan langkah langkah PJP oleh keluarga, serta mengembangkan konsep latihan PJP.

Sebelumnya Kepala DinkesPPKB Kabupaten Mempawah Jamiril dalam laporannya mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan pihaknya bekerjasama dengan BKKBN Kalbar memiliki beberapa tujuan. Yaitu meningkatkan peran kelompok BKL dalam mensosialisasikan program-program ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Kemudian adanya motivasi kelompok BKL agar tetap beraktivitas kreatif mensosialisasikan program lansia tangguh dan ikut memberikan pendampingan PJP bagi lansia sehingga bisa meningkatkan kualitas hidup, adanya sinergisitas antara PKB dengan kelompok BKL dalam meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang program lansia tangguh dan pendampingan PJP bagi lansia.

Penulis : Dian Sastra
Editor   : Diko Eno
Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini