Mempawah Diusulkan Jadi Kota Pertama Jaringan Gas Rumah Tangga Berbasis LNG

Editor : Redaksi II
Ketua BPH Migas RI, Muhammad Fanshurullah Asa ketika berdialog dengan Bupati Mempawah, Erlina.[Suarakalbar/Dian Sastra]
Mempawah (Suara Kalbar)-Ketika berkunjung ke Mempawah, Kepala BPH Migas Republik Indonesia, Muhammad Fanshurullah Asa, punya usulan menarik yang telah disampaikan kepada Komisi VII DPR RI.

Di hadapan Bupati Mempawah, Erlina, beserta Wakil Bupati Muhammad Pagi, Ketua DPRD Ria Mulyadi, Sekretaris Daerah Ismail dan pejabat Pemkab Mempawah, pria yang akrab disapa Ifan ini mengatakan, telah mengusulkan agar Kabupaten Mempawah dapat dijadikan sebagai kota pertama jaringan gas rumah tangga berbasis LNG.

“Saya telah mengusulkan ke Komisi VII DPR RI agar menjadikan Kabupaten Mempawah menjadi kota pertama jaringan gas rumahtangga berbasis LNG. Ini yang pertama di Indonesia. Kalau gas bumi, sudah banyak. Sudah diterapkan BPH Migas di 52 kabupaten/kota,” ungkapnya.

Adanya jaringan gas rumahtangga berbasiskan LGN, tambahnya, Ifan menjamin tidak akan ada kelangkaan gas LPG di Kabupaten Mempawah. Harganya juga lebih murah, dan ibu rumahtangga tidak perlu capek lagi mengangkat dan mengantri gas kemana-mana.

Kedatangan BPH Migas ke Mempawah adalah untuk menyerahkan kuota BBM bersubsidi dan BBM penugasan untuk Kabupaten Mempawah. Adapun kuotanya terdiri atas, Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu (JBT) yakni minyak solar berjumlah 29.275 kilo liter. Sedangkan Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) yakni premium, 24.268 kilo liter.

Ifan selanjutnya mengatakan, dalam kunjungan kali ketiga di Mempawah ini, BPH Migas RI juga telah memantau Pelabuhan Kijing yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat. Sebab Kijing akan menjadi proyek strategis nasional pertama yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada November nanti.

“Ini akan memiliki dampak yang luar biasa bagi perkembangan industri Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Mempawah. Kami mengusulkan agar kawasan Pelabuhan Kijing, apabila dikaitkan dengan fungsi BPH Migas, agar dijadikan kawasan ekonomi khusus berbasiskan gas, bukan hanya BBM,” jelasnya.

Menurutnya, karena gas ini bersih (clean energy), sehingga bisa mendukung upaya Kalimantan maupun Kalimantan Barat agar menjadi paru-paru dunia. Dari segi harga, jauh lebih murah daripada BBM, sehingga akan lebih bagus untuk menggerakkan ekonomi dan investasi.

Caranya, pada jangka panjang, seperti yang dirumuskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, akan dibangun pipa gas Trans Kalimantan. Apakah nanti Natuna menuju Kalbar, atau dari Kalteng menuju Kalbar.

“Tapi dalam jangka pendek, karena permintaan gas belum signifikan di Kalbar, nantinya bisa digunakan Terminal LNG di Pelabuhan Kijing, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah,” tutup Ifan.

Penulis : Dian Sastra
Editor   : Diko Eno
Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini