Memaknai Kemerdekaan di Masa Pandemi Covid-19
![]() |
| . |
Oleh: L. Sahat Tinambunan, SE,MM*
TANGGAL 17 Agustus di tahun 2020 kali ini memang beda dan tak biasa. Tak ada lagi gelak tawa warga menyaksikan keseruan panjat pinang, bola dangdut, makan krupuk serta sederet permainan dan hiburan rakyat yang biasanya akrab disela-sela perayaaan Agustus-an, mulai dari tingkat Dusun hingga sekelas kota Kabupaten yang biasanya super meriah dan heboh.
Hari ini, Di hari Kemerdekaan RI ke-75 suasana sungguh sepi, jalan-jalan lenggang. Pandemi Covid-19 masih bercokol dan duniapun masih mencekam akibat invasi dari virus ini, tak terkecuali Negara kita. Ironis memang, disaat kita sedang merayakan kemerdekaan karena telah lepas dari belengu penjajah bangsa lain (Jepang-Belanda), namun nyatanya kita masih juga sedang terjajah oleh hal lainnya termasuklah oleh virus covid-19 yang sedang melanda, dan kitapun masih sedang berjuang membebas dari virus Corona ini.
Sejatinya dari adanya virus covid-19 yang menginvasi atau menjajah dunia saat ini, kita mungkin bisa memahami dan memaknai hakekat kemerdekaan yang sesungguhnya dalam konteks yang lebih luas dan dalam. 17 Agustus 1945, 75 tahun silam kita bangsa Indonesia memang telah terbebas dari belengu penjajahan Negara Belanda dan Jepang. Tentunya model penjajahan Belanda-Jepang dahulu adalah imperialism model kuno. Lalu di era digitalisasi kini, apakah kita benar-benar terbebas dari penjajahan lainnya. Penjajahan yang memakai bentuk dan cara-cara baru.
Ayolah kawan, mari sedikit realitis berpikir dan melihat fakta yang ada saat ini di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Bicara tentang perekonomian, maka kita bicara siapa pemilik modal dan penggerak ekonomi di Negara ini, mulai dari bisnis skala nasional hingga daerah, semuanya di kuasai para kapitalis.
Bicara tentang infrastruktur jalan, penerangan, bangunan sekolah, akses telekomunikasi, akses ke kesehatan yang tak pernah selesai-selesainya. Nyatanya masih jauh panggang dari api, di sudut-sudut kampong-kampung khususnya di pulau Borneo, infrastruktur jalan masih banyak yang tak kenal dengan namanya aspal. Penerangan listrik pun masih banyak yang belum terpasang. Jaringan internet, jangan ditanya, terkadang harus pergi ke bukit dan memanjat pohon tinggi untuk sekedar memperoleh sinyal.
Kawan, kita memang telah merdeka dari penjajah gaya kuno dahulu. Tapi sejatinya kita masih harus berjuang lebih keras lagi untuk mewujudkan slogan “ Indonesia Maju” itu. Dengan berjuang membebaskan diri dari Penjajah model baru dalam berbagai wujud yang hadir disekeliling kita saat ini.
Sistem yang korup (oligarkhi) dari pusat hingga ke daerah dan telah menular ke desa adalah salah satu akar dari penjajahan model baru itu. Dimana sistem yang dibangun di atas kertas “Demi kesjahteraan masyarakat” dalam praktik demi sekelompok orang (Oligarkhi).
Karena itu, di 75 tahun kemerdekaan RI dengan semangat “Indonesia Maju” di masa pandemi Corona saat ini, setidaknya dapat kita maknai untuk terus berjuang dan memutus mata rantai sistem penjajahan model baru itu, dengan mulai mencari dan mendudukkan orang baik dan berintegritas dijabatan-jabatan publik di negeri ini, dari Desa hingga Ibu Kota. “ Woi…generasi muda, mulailah berdiskusi dimanapun untuk Indonesia Maju. -Salam Merdeka”
*Penulis Ketua Ikatan Wartawan Online Kabupaten Landak





