Choon Ka Po atau Kratom, Komoditas Tanaman Obat yang Laris di Luar Negeri

Editor : Dina Prihatini Wardoyo
Anggota DPRD Mempawah, Subandio.
Mempawah (Suara Kalbar) - Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK.104/M/2/2020 Tentang Komoditas Binaan Direktorat Jenderal Hortikultura, disambut khalayak ramai dengan positif.

“Sebab dengan terbitnya Keputusan Menteri Pertanian RI itu, maka Kratom atau daun putik dinyatakan sebagai komoditas bahan baku obat. Saya menyambut positif keputusan pemerintah ini,” tegas Subandio, Anggota DPRD Mempawah.

Legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga mengatakan, kratom sebagai tumbuhan liar yang selama ini dibudidayakan, dapat digolongkan sebagai sumber daya alam yang bisa diolah menjadi obat-obatan.

“Memang sejak dulu budidaya kratom tidak dilarang, jadi jangan sedikit-sedikit dianggap barang ilegal, barang haram. Padahal sejujurnya, kratom sangat laku di pasaran internasional, termasuk di Amerika Serikat dan Eropa,” kata Subadio lagi.

Potensi kratom yang sangat luar biasa di luar negeri, hendaknya didukung pemerintah dengan membuat regulasi, misalnya berupa undang-undang, agar petani yang bertumpu pada penghasilan budidaya kratom dapat diakomodir.

“Andai sudah ada regulasi dari pemerintah pusat, kita bisa juga membuat peraturan daerah (perda) untuk mengatur kratom ini. Bila perlu, bentuk badan usaha milik daerah (BUMD) Mempawah dalam rangka pengelolaan yang profesional dan terarah,” imbuh dia.

Kratom atau daun putik cukup dikenal oleh Subandio. Menurutnya, ada tiga jenis yang paling bagus, yakni daun berwarna merah yang di dalam bahasa Khek disebut Choon Ka Po. Khasiatnya untuk pengobatan sangat baik.

“Rebusan air daun putik atau Choon Ka Po ini juga berwarna merah. Bisa untuk mengobati penyakit wasir, radang tenggorokan, menurunkan panas dalam dan mengobati infeksi ringan. Jadi kratom ini punya khasiat luar biasa jika dipergunakan dengan baik dan benar,” ujarnya.

Penulis : Dian Sastra
Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini