BKSDA Kalbar dan IAR Indonesia Selamatkan Orangutan 'Boncel' di Ketapang

Editor : Redaksi II
Tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I dan IAR Indonesia mengevakuasi orangutan yang di temukan di Desa Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang | Foto: IAR Indonesia.
Pontianak (Suara Kalbar) - Tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I dan IAR Indonesia melakukan penyelamatan dan translokasi satu Orangutan.

Orangutan berjenis kelamin jantan dewasa ini ditemukan di kebun milik warga di Desa Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalbar.

Laporan disampaikan pertama kali oleh dari seorang warga yang mengetahui adanya keberadaan orangutan di dalam kebun sawit yang bertepatan didekat jalan Pelang-Tumbang Titi. Warga mengabarkan, orangutan ini tidak sengaja terlihat ketika pekerja kebun hendak membersihkan semak-semak belukar yang ada disekitar kebun tersebut.

Tim gabungan akhirnya menemukan keberadaan Orangutan yang diberi nama Boncel ini dan telah melakukan monitoring secara intensif mulai dari awal bulan Agustus.

Melihat jarak dari kebun ke hutan melalui citra satelit,jarak tersebut cukup jauh sehingga tidak memungkinkan orangutan ini bisa kembali ke dalam hutan. Menimbang kondisi yang kemudian nantinya bisa memicu konflik antara warga setempat dengan hewan yang dilindungi ini bisa kapan saja terjadi, tim IAR Indonesia bekerjasama dengan BKSDA Kalbar serta Pemda Sungai Besar memutuskan untuk mentranslokasikan orangutan ini ke hutan Desa Sungai Besar.

Translokasi Boncel yang usianya berkisar 30-40 tahun ini berjalan sesuai harapan.

dokter hewan IAR Indonesia, drh. Andini  melakukan serangkaian pemeriksaan medis terhadap orangutan bernama Boncel ini. Ia menyatakan kondisi Boncel sehat.

Kepala Program IAR Indonesia,Argitoe Ranting mengatakan pihaknya telah melakukan translokasi terhadap orangutan bernama boncel ke hutan Desa Sungai Besar. Pihaknya juga sudah bekerjasama dengan Pemda setempat.

"Karena kondisi orangutan ini sehat dan tidak memerlukan perawatan lebih lanjut,maka kami bersama BKSDA Kalbar memutuskan untuk langsung mentranslokasikan mereka ke hutan Desa Sungai Besar. Kami juga sudah berkoordinasi langsung dengan pihak pemerintah desa mengenai ini. Hutan seluas 6500 ha ini dipilih karena Boncel diperkirakan dari lokasi ini," katanya, kamis (20/8/2020).

Meskipun translokasi ini berjalan lancar,akan tetapi tidak mengurangi akar dari masalah ini yakni pada ahli fungsi lahan dan kerusakan hutan.

Direktur IAR Indonesia,Karmele L. Sanchez menuturkan, peringatan Hari Orangutan Sedunia mestinya menjadi pengingat supaya kita bangga karena bisa memiliki orangutan. Berupaya melindungi dengan sungguh-sungguh agar tidak terjadi konflik antara orangutan dan manusia.

"Hari orangutan yang diperingati diseluruh dunia ini seharusnya menjadi pengingat bahwa kita semestinya bangga memiliki orangutan dan melakukan upaya sepenuh hati untung melindungi dan menjaga mereka serta habitatnya. Namun sampai saat ini, konflik antara manusia dan orangutan masih saja terjadi.

Potensinya bahkan cenderung meningkat. Konflik ini muncul karena orangutan kehilangan habitat yang merupakan rumah bagi mereka. Orangutan mencari makan ke kebun warga karena mereka tidak punya pilihan lagi akibat rumahnya yang musnah. Kehilangan habitat dan konflik dengan orangutan meningkat risiko penularan penyakit antara manusia dan orangutan.

" Kami berharap, melalui hari orangutan sedunia ini, manusia menyadari pentingnya hutan hujan bagi orangutan dan manusia itu sendiri," tukasnya.


Penulis : Yapi Ramadhan
Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini