Wali Kota Tinjau Posko Pengungsian Dampak Banjir di Condong

Editor : Suhendra Yusri
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie saat melakukan peninjauan di Posko Pengungsian Banjir di Komplek Kantor Lurah Condong, Kamis (30/7/2020) malam.
Singkawang (Suara Kalbar)- Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie melakukan peninjauan di Posko Pengungsian dampak banjir di Komplek Kantor Lurah Condong Kecamatan Singkawang Tengah pada Kamis (30/7/2020) malam.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie didampingi Kepala BPBD Kota Singkawag, Moh Syafruddin memberikan bantuan sembako kepada para pengungsi dan juga memberikan masker.

Jumlah pengungsi di Posko Pengungsian Komplek Kantor Lurah Condong berjumlah 62 jiwa sedangkan di Posko Pengungsian di Sakkok berjumlah sebanyak 34 sehingga total keseluruhan korban berjumlah sebanyak 96 jiwa.

“Kedatangan kita untuk memberikan semangat, dan bisa kita lihat disini ada anak-anak kecil dan ada yang hamil. Kita harapkan  cepat surut,” ujar Tjhai Chui Mie.

Untuk konsumsi atau logistik bagi pengungsi, kata Tjhai Chui Mie, pihaknya menyiapkan dapur umum seperti beras, telur dan mie instan.

“Tim kesehatan sudah kita standby kan, dan apabila ada yangmera tidak enak, maka bisa melapor ke petugas yang menjaga di posko,” katanya.

Kepala BPBD Kota Singkawang, Moh Syafruddin mengatakan bahwa banjir hampir merata di kelurahan tertentu di Kecamatan Singkawang  Tengah, meskipun ada warga yang mengungsi dan ada yang tidak.“Ketinggian air sekitar 20-30 cm dari permukaan tanah,” jelasnya.

“Banjir Singkawang Selatan hanya pagi tadi di Sakkok, dan sekarang sudah mulai kering sedangkan Pajintan di Singkawang Timur tempat lintasan air,” katanya.

Sedangkan untuk di Kecamatan Singkawang Tengah ketika surut memang agak lambat, sedangkan di kawasan Pasar Baru tepatnya di bantaran sungai mendekati satu meter.

“ Berdasarkan perkiraan BMKG cenderung awan tebal, dan bulan ini akan memasuki musim penghujan yangb kita dapat real dari BMKG tiap enam jam, dan 300 mililiter perdetik, dan tentu akan pasti banjir,” katanya.

Dia menjelaskan, pihaknya sudah membuat pamlet dan brosur yang intinya kehati-hatian dan bersahabat dengan alam. “Kita selalu tiap tahun mengalami banjir dan menjaga keamanan rumah dan bahaya listrik,” jelasnya.

Liduana, satu diantara korban banjir yang ikut mengungsi mengatakan pihaknya tak menyangka rumahnya terkena banjir yang sudah setengah betis.

“Tadi malam tidur sekitar pukul satu lewat, baru sampai ke kamar mandi ternyatanya airnya deras,” katanya.

Penulis : Tim Liputan
Editor : Hendra

Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini