|

Kisah Almarhum Aiptu H. Mahmud Abubakar, Polisi Religius Pendiri Pontren Al-Mukhlishin Mempawah

Almarhum Aiptu H. Mahmud Abubakar, polisi religius yang merupakan salahsatu pendiri Pontren Al-Mukhlishin Desa Antibar, Mempawah Timur.

Mempawah (Suara Kalbar) - Pondok Pesantren (Pontren) Al-Mukhlishin beralamat di Jalan Johansyah Bakri RT. 19/RW. 06 Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur. Al-Mukhlishin merupakan salahsatu pontren terbesar di Kabupaten Mempawah.

Sejak berdiri hingga sekarang, santri yang sudah ditelurkan berjumlah 1.000 orang di tingkatan Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Wajar jika Al-Mukhlishin menjadi pontren kebanggaan warga Mempawah. 

Namun tidak banyak yang tahu, di balik kesuksesan penyelenggaraan pendidikan Al-Mukhlishin tersebut, ada satu sosok yang menjadi aktor penting. Ia adalah almarhum Aiptu H. Mahmud Abubakar, seorang polisi religius yang menjadi salahseorang pendiri Pontren Al-Mukhlishin.

Aiptu H. Mahmud Abubakar, semasa hidupnya adalah anggota Polres Mempawah. Ia adalah figur teladan yang dikenal taat beribadah, rendah hati dan punya komitmen kuat untuk membangun sektor pendidikan Islam.

Pontren Al-Mukhlishin didirikan pada tahun 1957 atas kesepakatan beberapa pemuka masyarakat Desa Antibar untuk mendirikan madrasah (sekolah yang bercirikan Islam). Maka dibentuk lah kepanitiaan di masa itu, yakni Bahrun Hasan sebagai ketua dan Ismutiar sebagai penulis (sekretaris) dengan nama Madrasah Islamiyah.

Di tahun yang sama, dibangun pula masjid dengan nama Al-Mukhlishin sebagai salahsatu wadah pelayanan masyarakat untuk beribadah dan mempelajari Islam. Gayung pun bersambut. Niat panitia pelaksana untuk membangun madrasah dan masjid mendapat sokongan masyarakat.

Seorang tokoh Desa Antibar, almarhum H. Mohamad Jasin bin H. Ahmad, menyerahkan lahan wakaf seluas 97,2 meter persegi untuk dibangun madrasah dan masjid. Tahun 1968, dibuatkan surat penyerahan wakaf agar memiliki kekuatan hukum.

Di atas tanah wakaf itu lah, panitia pelaksana mulai melaksanakan tahapan pembangunan. Tahap awal adalah membuat bangsal dari bambu atas sumbangan warga untuk menjadi tempat penyimpanan bahan material.

Pembangunan Masjid Al-Mukhlishin berhasil dituntaskan. Namun sayang, Madrasah Islamiyah justru terkendala, sehingga tanah wakaf dan bangsal yang berbahan material bambu, kemudian tumbuh menjadi hutan bambu.

Titik terang realisasi pembangunan madrasah muncul 13 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1980, para tokoh masyarakat Desa Antibar menyepakati untuk menyegarkan kepanitiaan dengan membentuk pengurus Yayasan Al-Mukhlishin.

Sebagai ketua, ditunjuk H. Mubasirin (alm) didampingi A. Karim Datma dan Ismutiar Imran. Sementara anggota terdiri atas Yuswardi Husin, M. Ali Ahmad (alm), Imran Idris, Daeng Taha (alm), Ibrahim Taha, Ibrahim Idris dan Husin Sani (alm).

Nama Yayasan Al-Mukhlishin diambil karena dilekatkan dengan nama Masjid Al-Mukhlishin yang telah berdiri waktu itu. Dan pada tahun 1983, bangunan masjid kemudian digeser ke belakang. Namun kepanitian yang dibentuk kembali mengalami stagnansi.

Baru tahun 2000, diprakarsai H. Yuswardi Husin, diadakan rapat untuk melanjutkan pembangunan madrasah dengan peserta rapat Zulkifli Hasan, Umar Bahar, Sedek Mukti dan Syamsudin Ahmad. Mereka sepakat untuk memulai proses belajar mengajar terhadap anak-anak di Desa Antibar dengan membentuk Madrasah Diniyah (Madin).

Disepakati pula bahwa dewan pengajar terdiri atas Ust. Zulkifli Hasan (Ketua Madin) bersama Ust. Sehad dan Ust. Mu’in. Sementara kegiatan pembelajaran pada waktu itu dipusatkan di serambi Masjid Al-Mukhlishin.

Kemudian, mengangkat H. Mahmud Abubakar sebagai Ketua Yayasan Al-Mukhlishin. Mahmud yang merupakan anggota Polres Mempawah, dianggap pantas untuk memimpin dan membesarkan yayasan. Pelan tapi pasti, Madsarah Diniyah Desa Antibar mulai dikenal dan semakin banyak santri yang belajar.

Lewat tangan dingin H. Mahmud Abubakar pula, tahun 2001 mulai dibangun tempat kediaman guru yang terletak di samping masjid. Dan tahun 2003, terbangun Gedung Madrasah Diniyah yang terletak di atas tanah wakaf H. Mohammad Jasin bin H. Ahmad.

Dan hingga sekarang, Madrasah Diniyah di bawah manajemen Yayasan Al-Mukhlishin terus berkembang hingga akhirnya menjadi pondok pesantren dengan tiga tingkatan pendidikan, yakni Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Alumni santri Al-Mukhlishin telah banyak yang menjadi mubaligh dan mengembangkan halaqah-halaqah (pengajian) di berbagai daerah. Bahkan, para santri Al-Mukhlishin juga tak sedikit menuai prestasi di ajang MTQ tingkat kecamatan, kabupaten hingga provinsi.
 
Sepeninggal Aiptu H. Mahmud Abubakar, pucuk pimpinan Yayasan Al-Mukhlishin beralih ke Zilil Iman, anak lelaki almarhum. Menurut Zilil, Al-Mukhlishin merupakan pondok pesantren yang dibangun dari masyarakat dan untuk masyarakat.
“Ini lah pondok pesantren yang dibangun atas kekompakan, ketekunan dan gotong-royong warga Desa Antibar bersama pemuka agama dan pemuka masyarakat. Karena berasaskan kebersamaan tersebut, maka Al-Mukhlishin bisa berkembang dengan cepat,” ungkapnya.

Almarhum ayahnya, Aiptu H. Mahmud Abubakar, hanya lah pengemban amanah untuk membangun dan mengembangkan Al-Mukhlishin. Karena adanya kerjasama dan doa masyarakat Desa Antibar, maka Al-Mukhilishin bisa besar seperti sekarang ini.
“Semua karena rahmat Allah Ta’ala. Almarhum ayah saya hanya melaksanakan amanah. Insya Allah, apa yang telah dilakukan masyarakat Desa Antibar untuk mendukung Pontren Al-Mukhlishin akan mendapat balasan setimpal dari Allah Ta’ala,” imbuhnya.


Penulis : Dian Sastra
Editor   : Dina Wardoyo
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini