Kawasan Cagar Alam Bisa Dikembalikan Menjadi Hutan Adat ?

Editor : Diko Eno
Spanduk bertuliskan 'Tidak menyetujui' dipasang warga.
Bengkayang (Suara Kalbar) - Wahana Lingkungan Hidup atau Walhi Provinsi Kalimantan Barat menyatakan hutan Adat seluas 9.000 hektar lebih yang masuk kawasan Cagar Alam bisa kembali menjadi hutan adat milik masyarakat di Dusun Dawar Desa Pisak Kecamatan Tujuh Belas Kabupaten Bengkayang.

Salah satu syarat untuk mengeluarkan Cagar Alam agar masuk ke wilayah Hutan Adat adalah saat ini Kabupaten Bengkayang sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor : 4 Tahun 2019 Tentang Pengakuan Dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat.

Berdasarkan data hasil pemetaan partisifatif total luas wilayah Hutan Adat do Dusun Dawar Kecamatan Tujuh Belas Kabupaten Bengkayang seluas 1.122, 74 hektar dan 9.000 hektar diantaranya di klaim masuk kawasan Cagar Alam.

Adapun hutan adat yang diklaim masuk Cagar Alam tersebut masih di perjuangkan masyarakat untuk dikembalikan kepada masyarakat agar menjadi Hutan Adat.

Tujuannya agar masyarakat bisa mengolah Hutan Adat untuk berladang yang dilakukan sejak turun temurun sebagai sumber nafkah dan mata pencaharian.

Direktur Eksekutif Walhi Kalbar Nikodemus Ale Mengatakan hutan Adat yang diklaim masuk Cagar Alam bisa kembali kepada masyarakat.

"Karena saat ini syarat untuk memgeluarkan Cagar Alam di Kabupaten Bengkayang sudah memiliki payung hukum yaitu Perda Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat," katanya, Sabtu (25/7/2020).

Memurut Nikodemus Ale, yang paling utama untuk mengembalikan hutan adat adalah kekompakan masyarakat Dusun Dawar yang didukung peta partisifatif.

"Sebab organisasi yang memperjuangkan hak masyarakat adat seperti AMAN, WALHI ,LEMBAH hanya bersifat memfasilitasi dan mengawal hingga masyarakat memperoleh haknya,"ungkapnya lagi.

Jumlah wilayah peta adat di Dusun Dawar ,Desa Pisak Kecamatan Tujuh Belas Kabupaten Bengkayang yang masuk pemetaan partisipatif saat ini, selain Hutan Adat seluas 22,51 hektar pemukiman dan 1.578, 55 hektar area berladang.



Penulis : Kurnadi
Editor   : Diko Eno
Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini