Jumlah PNS Pensiun Kian Bertambah, Edi Akui Kekurangan Guru

Editor : Dina Prihatini Wardoyo
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono 
Pontianak (Suara Kalbar) - Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengungkapkan problema kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) terutama guru dihadapi hampir sebagian besar pemerintah daerah. Tak terkecuali di Kota Pontianak. Betapa tidak, hampir setiap tahun dirinya menandatangani pensiun para guru.

"Jumlahnya pun sekitar 200-300 guru setiap tahunnya," ujarnya saat memberikan sambutan pada Konferensi Kota XI Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pontianak masa bakti 2015-2020 di Hotel Maestro, Sabtu (25/7/2020) kemarin.

Sementara setiap usulan yang diajukan ke pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik sesuai dengan analisis dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, rerata yang dipenuhi hanya sekitar 40 hingga 50 persen saja.

Hal ini mengakibatkan kekurangan tenaga guru tidak pernah terpenuhi secara keseluruhan sehingga tenaga guru honorer menjadi salah satu jalan keluar untuk mengatasi kekurangan tersebut.

"Ini suatu problem tersendiri yang menjadi pekerjaan rumah kita dalam menyelesaikan permasalahan kekurangan SDM tenaga pendidik," ungkap Edi.

Di sisi lain, dirinya menilai honor yang diperoleh oleh guru honorer saat ini terbilang belum layak. Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak akan berupaya untuk mencari solusinya agar kesejahteraan guru honorer lebih terjamin.

Pihaknya akan mengkaji bersama Inspektorat dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mencari solusinya.

"Bagaimana formulasinya agar setidaknya meningkatkan honor bagi guru honorer," ucapnya.

Diakuinya, permasalahan dunia pendidikan seperti kurangnya SDM guru menjadi pekerjaan rumah Pemkot Pontianak. Namun permasalahan tersebut tidak akan tuntas tanpa adanya campur tangan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Edi juga berharap dukungan dari PGRI sebagai wadah organisasi guru untuk melakukan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan kompetensinya.

Menurutnya, para guru sudah harus menguasai IT sebab pembelajaran yang dilakukan saat ini lebih banyak memanfaatkan perangkat IT. Program ke depan tentu ini menjadi dasar bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan berdasarkan pengalaman selama menghadapi pandemi Covid-19.

"Kita tidak tahu sampai kapan Covid-19 ini berakhir. Kita tidak bisa memastikan karena anak-anak sangat rentan oleh penularan Covid-19," pungkasnya.

Penulis : Tim Liputan
Editor   : Dina Wardoyo
Advertising
Share:
Komentar

Advertising

Terkini