|

Kisah Sakiman, Calo Motor yang Bertanam Ubi Demi Biaya Kedua Anak Mondok di Jawa Timur

Sakiman.
Mempawah (Suara Kalbar)-Warga Mempawah sebagian besar mengenal Sakiman (49), seorang calo sepeda motor yang biasa nongkrong di Pasar Mempawah. Tapi siapa menyangka, pria sederhana ini berhasil menyekolahkan kedua anak perempuannya di Pesantren Jawa Timur.

Ditemui di salahsatu warung kopi di Pasar Mempawah, Minggu (21/06/2020), warga Parit Mak Elot, Desa Antibar ini, mengatakan, rezeki, maut dan jodoh itu rahasia Allah SWT. Asalkan ikhlas, rezeki mengalir begitu saja.

Ia yang dulunya kerja serabutan, kini bisa mengirim kedua anaknya untuk mondok di pesantren Jawa Timur. Setiap bulan, cukup besar biaya pendidikan yang harus dipersiapkan. Tapi ia yakin, niat baiknya untuk menyekolahkan anak belajar Islam, akan mendapat ridho dari Allah SWT.

“Selain calo motor, saya bertanam ubi kayu (singkong, red) di lahan kosong seluas satu hektar. Alhamdulillah, sekali panen bisa menghasilkan Rp 10 juta. Uang hasil panen saya tabung untuk biaya anak mondok,” ungkap Sakiman.

Sejak pagi, usai shalat subuh, Sakiman sudah pergi ke kebun. Ia membersihkan kebun singkong dari rumput dan gulma. Kebunnya terlihat menghijau, karena tanamannya tumbuh subur. Setelah membersihkan rumput, ia kembali mencangkul membuat bedengan baru untuk ditanami singkong di sisi lahan yang lain.

“Panen singkong memang saya atur agar tidak serempak. Saya atur waktu tanamnya. Jadi dalam setahun bisa beberapa kali panen. Jadi biaya untuk anak mondok tak kesulitan lagi,” ungkapnya seraya tersenyum.

Ketika hari beranjak siang, Sakiman tak istirahat. Ia langsung turun ke pasar untuk menjalani pekerjaan sebagai calo motor ataupun calo barang-barang yang dibutuhkan orang. Jika pasaran motor lagi sepi, ia mengambil upahan menebas kebun warga.

“Apapun saya kerjakan, asal halal. Saat pandemi Covid-19, pasaran jual-beli motor lagi sepi, maka saya ambil upahan menebas kebun orang. Kadang juga manjat kelapa. Hasilnya lumayan untuk makan dan ditabung,” jelasnya lagi.

Tidak ada rasa malu dalam kamus hidup Sakiman. Ia bekerja apa saja demi biaya hidupnya dan untuk membiayai sekolah kedua anaknya.

“Mudah-mudahan Allah SWT selalu menjaga kesehatan saya. Rezeki bisa dicari, yang penting sehat. Kuncinya, harus banyak-banyak bersyukur dan selalu ikhas membantu orang,” pungkas Sakiman.

Penulis : Dian Sastra
Editor   : Diko Eno

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini