Pembuatan Hand Sanitizer dari Ekstrak Jahe

Oleh: Abdianto*
Hand Sanitizer diperlukan untuk memudahkan dalam membersihkan tangan yang lebih efektif dalam membunuh kuman, bakteri, atau virus.
Salah satu contoh bakteri yang sering terdapat di tangan adalah bakteri Staphylococcus aureus, bakteri ini merupakan salah satu bakteri yang bersifat pathogen dan bisa menyebabkan beragam penyakit yang berkaitan dengan produksi nanah, seperti jerawat, bisul, dan sebagainya. Salah satu penyebab penyakit infeksi berasal dari bakteri dan penyakit infeksi merupakan penyebab utama kematian di dunia terutama di daerah tropis, seperti Indonesia (Khunaifi, 2010).
Maka dari itu, untuk pencegahan pertumbuhan bakteri dibutuhkan hand sanitizer dan berdasarkan dari telaah pustaka bahwa jahe bisa dijadikan hand sanitizer guna dalam membunuh bakteri dikarenakan kandungan flavonoid yang efektif didalamnya. Jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan tanaman rimpang sebagai rempah-rempah maupun obat yang sangat populer di Indonesia.
Kandungan pada jahe yang meliputi flavonoid, fenol, terpenoid, serta minyak atsiri yang dapat dijadikan sebagai bahan campuran dalam pembuatan hand sanitizer dengan formula menghambat pertumbuhan patogen seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Bacillus subtilis (Tuntun, 2016).
Senyawa flvonoid merupakan metabolit sekunder dari polifenol yang ditemukan secara luas pada tanaman serta makanan termasuk jahe dan memiliki berbagai efek bioaktif sebagai anti-virus, anti-inflamasi (Qinghu Wang dkk, 2016) dikarenakan senyawa flavonoid akan menyerang (salah satu bagian penyusun bakteri) sehingga bakteri pathogen tersebut akan mati disebabkan salah satu bagian tersebut rusak.
Mengekstrak senyawa flavonoid pada jahe dilakukan dengan dipotong kecil-kecil terhadap jahe kemudian dikering-anginkan lalu dilarutkan menggunakan etanol di dalam alat sokhletasi, digunakan etanol sebagai pelarut dikarenakan sifat etanol adalah polar dan senyawa bioaktif yang ingin diekstrak merupakan turunan fenol yaitu gingerol yang bersifat polar sehingga hanya dapat larut di dalam pelarut yang bersifat polar juga.
Ekstraksi dapat dikerjakan dengan pelarut organik seperti aseton, eter, etanol, diklorometana, atau n-heksana (Achmadi, 1990). Setelah diekstrak kemudian di destilasi untuk memisahkan senyawa bioaktif dengan pelarut etanol.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan oleh Febriani (2018) bahwa sokletasi dengan etanol diperoleh %rendemen sebesar 50,2%. Semakin tinggi senyawa aktif yang diekstrak maka semakin baik pula ekstrak jahe tersebut untuk menekan jumlah pertumbuhan bakteri pathogen seperti Staphylococcus aureus.
Setelah diekstrak senyawa bioaktif dari jahe yaitu flavonoid tetapi yang berperan antimikroba adalah zingiberene dan gingerol (Sutton, 2011) kemudian dibuat hand sanitizer dengan digunakan alkohol 70% sebagai antisepktik atau pelarut, gelatin sebagai pelembap pada kulit, dan ekstrak jahe sebagai bahan aktif dalam menekan mikroba dengan jumlah volume berturut-turut adalah 50 ml ; 20 ml ; dan 10 ml. Jadi, dapat disimpulkan bahwa jahe dapat digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan hand sanitizer guna dalam membunuh mikroba atau bakteri yang bersifat pathogen.
*Penulis Adalah Mahasiswa Kimia MIPA Untan Pontianak





