|

DAD Kecamatan Kapuas Gelar Ritual Adat Tolak Bala Cegah COVID-19

DAD Kecamatan Kapuas menggelar ritual adat tolak bala cegah Covid-19 di Kawasan Sabang Merah, Kelurahan Bunut, Sanggau, Rabu (25/3/2020)

Sanggau 
(Suara Kalbar) - Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Kapuas menggelar ritual adat tolak bala di Kawasan Sabang Merah, Kelurahan Bunut, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalbar,Untuk menangkal penyebaran Covid-19 di Sanggau, Rabu (25/3/2020).

Ketua DAD Kecamatan Kapuas, Andreas Sisen menyampaikan ucapkan terima kasih kepada tukang pomang, kegiatan ini berdasarkan arahan dari DAD Kabupaten Sanggau untuk tiap DAD Kecamatan agar melaksanakan ritual adat tolak bala.

"Untuk mengusir, melenyapkan, menanggulangi atau menangkal virus corona ini,"ujar Andreas Sisen usai mengikuti ritual adat tolak bala.

Anggota DPRD Sanggau ini menjelaskan bahwa dalam ritual ini pihaknya menggunakan dua pomang yang berasal dari Jungor Tonyong'k dan Kodatn.

Tentu dalam hal ini ada syarat-syarat khusus yang perlu diketahui masyarakat adat di Kecamatan Kapuas khususnya dan Kabupaten Sanggau pada umumnya.

"Ritual ini tentu ada syarat khusus yaitu pantangnya. Pantangnya itu sudah kita sepakati dan sudah disanggupi kita wakilkan kepada tukang Pomang yaitu Pak Viktor. Jadi masyarakat tetap melakukan aktifitas masing-masing, tentu sesuai dengan arahan dari Pemerintah,"tegasnya.

Sisen menambahkan, Bahwa besok pantang akan dimulai oleh tukang pomang (Viktor) yaitu tidak boleh keluar rumah, tidak boleh memotong mahluk hidup, tidak boleh mengambil semacam jenis sayur-sayuran seperti rebung dan pakis.

"Itu pantang beliau selama tiga hari dimulai Kamis, Jumat dan Sabtu. Sekali lagi masyarakat harus mengetahui hal ini, masyarakat tidak perlu berpantang dan tetap melakukan aktifitas masing-masing,” katanya.

Dia mengungkapkan pihaknya mengharapkan agar patuhi aturan yang disampaikan pemerintah. “Untuk membantu bapak-bapak tukang pomang hari ini yang sudah membantu kita berdoa kepada Tuhan yang maha kuasa agar virus Corona ini hilang dari muka bumi ini," ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Temenggung Adat Kecamatan Kapuas yang juga pomang dalam ritual adat tolak bala, Viktoriadi menyampaikan bahwa hari ini melakukan ritual adat tolak bala dalam rangka khusus menghalau, menghancurkan, dan melenyapkan virus corona dengan bantuan yang maha kuasa.

"Jadi tukang pomang itu hanya memohon kepada yang maha kuasa untuk dapat menghalau, menghancurkan, dan melenyapkan virus corona dari muka bumi ini," katanya.

Dalam ritual adat tolak bala ini ada beberapa persembahan yang dipersiapkan untuk ritual, dari sub suku kodant,  kata  Viktoriadi, menggunakan seokor ayam sedangkan dari Jungor Tonyong'k setiap ada acara seperti ini mereka menggunakan mahluk berkaki empat yaitu babi.

"Karena ritual adat itu tidak terlepas dari babi, tuak, dan darah. Selalu tetap ada yang merah atau darah kemudian babi dan tuak, Itu bagi etnis Dayak,  dan pantang akan diadakan tiga hari tiga malam, dan diwakili kepada satu orang perwakilan dari Kecamatan Kapuas yaitu saya,"ujarnya.

Dalam pantang itu, bukan hanya tidak bisa keluar rumah saja. "Tapi kami setiap dua jam, jam ketiganya kami adakan ritual. Baik itu doa secara agama ataupun secara adat. Itu setiap hari. Kemudian tidak boleh membuat  semua jenis tanaman layu, terlebih rebung dan pakis," katanya.

Dia menjelaskan, kediamannya  di Dusun Segole, akan dipasang daun Sabang dan diumumkan kepada warga di Kampung, Apabila ada tamu yang mau berkunjung kekediaman dirinya untuk sementara waktu selama tiga hari tiga dalam tidak bisa ditemui karena laksanakan pantang tolak bala mewakili masyarakat adat Kecamatan Kapuas.

Penulis  : Tim Liputan / Ucok
Editor    : Hendra

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini