|

Kahmi Sanggau Gelar Diskusi Radikalisme

Suasana Diskusi tentang Radikalisme yang digelar Kahmi Sanggau
Sanggau (Suara Kalbar) - Salah satu isu yang sedang hangat diperbincangkan, radikalisme menjelma menjadi perhatian bersama. Ditambah lagi, bila dikaitkan dengan sejumlah aksi teror yang terjadi di Indonesia beberapa waktu belakangan ini.

Dalam konteks kedaerahan, bahasan ini tidak kalah menjadi perhatian sejumlah pihak. Apalagi dikaitkan dengan sejumlah kasus intoleransi. Potensi bahaya tersebut mesti disikapi dengan benar dan memberikan ruang dialogis yang besar bagi masyarakat.

"Kami mencoba mengambil peran dan membuka ruang dialogis yang luas agar pemahaman dan wawasan terkait radikalisme ini dapat tersampaikan secara baik di masyarakat agar tidak terjadi ambiguitas dalam kehidupan sehari-hari," kata Koordinator Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sanggau, Budi Yanuardi saat membuka diskusi soal radikalisme, Kamis (16/1). Diskusi tersebut juga menghadirkan dosen IAIN Pontianak, Eka Hendry, AR.

Budi melanjutkan, radikalisme memang tidak dapat dielakkan. Namun, masih dapat dilakukan antisipasi dengan langkah-langkah progresif dan komprehensif terutama pada pendidikan keluarga.

Kapolres Sanggau, AKBP Raymond Marcellino Masengi secara tegas mengingatkan masyarakat terhadap bahaya radikalisme. Sebagaimana tugas pokok dan fungsi kepolisian, pihaknya tetap berpedoman pada standard operational prosedure yang ditetapkan kepolisian baik dalam hal antisipasi maupun dalam hal penanganannya.

"Kalau kami kan ada SOP-nya. Sehingga segala tindakan kepolisian baik dalam hal pencegahan dan penanganan tetap mengacu ke sana," jelasnya.

Menurutnya, radikalisme menjelma menjadi perhatian semua pihak karena potensi bahaya yang begitu besar. Dalam lingkup yang sederhana, konteks privasi ketika dibawa ke publik, atau dalam bahasa memaksakan kehendak, itu akan punya dampak besar, paling tidak memicu persinggungan yang tidak diinginkan.

"Sejatinya, kepolisian juga berupaya agar apa yang dikhawatirkan baik itu radikalisasi maupun radikalisme dapat dicegah. Karena dalam konteks kedaerahan biasanya tidak akan jauh dari munculnya intoleransi di semua sisi kehidupan," terang dia.

Staf Ahli Bupati, Rizma Aminin juga mengamini bahwa pemerintah juga melakukan upaya-upaya pencegahan termasuk bagi internal pemerintahan, misalnya para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terindikasi terpapar radikalisme.

"Permasalahan ini kan sudah masuk ke semua lini. Sehingga butuh usaha bersama. Pemerintah sendiri juga tidak akan bisa menyelesaikannya. Paling penting adalah bagaimana pencegahan dapat dilakukan oleh semua pihak dan di semua lini kehidupan," tegasnya.

Sementara itu, akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Eka Hendry AR mengatakan secara kajian akademik persoalan radikalisme memang kerap dilakukan. Bahkan, dalam beberapa referensi akademis tidak terdapat korelasi yang secara khusus bersinggungan antara radikalisme dan agama. Meskipun dari beberapa literatur agama, istilah radikal biasa dilakukan.

"Secara historis, bila menelisik Britania Raya, istilah radikal telah digunakan. Begitu juga di abad 18, ketika revolusi Perancis terjadi. Tetapi, historis ini mengacu pada persoalan sosio-politik dan tidak bersinggungan dengan agama," ungkapnya.

Belakangan, persoalan ini mengalami peluasan stigma sehingga seolah-olah ada kaitannya dengan agama tertentu. Padahal, lanjut dia, bila memahaminya secara seksama, dalam konteks yang murni, tidak benar adanya, apalagi dikaitkan dengan agama tertentu.

"Ini masalahnya. Perluasan polemiknya, sudah mengarah pada konteks-konteks yang sebenarnya tidak ada historisnya. Oleh karena itu, memang harus dilihat dalam konteks hulu dan hilir. Saat ini, tidak bisa hanya menunggu di hilir, tetapi harus melihat hulunya," jelas dia.

"Saya kira apa yang disampaikan oleh pemerintah daerah dan aparat, pola pikir untuk melihat masalah dari hulunya sudah sangat tepat. Sehingga, akar persoalannya dapat ditangani secara tepat," tegasnya.

Penulis: Tim Liputan
Editor: Kundori
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini