Bahaya Beban Ganda Penyakit di Era Transisi

Oleh: Achmad Tasylichul Adib
TRANSISI demografi merupakan sebuah teori kependudukan yang awalnya digagas oleh ahli geografi Amerika Serikat, Warren Thompson pada tahun 1929. Teori yang diungkapkan merupakan sebuah pengamatan tentang perubahan populasi penduduk dari waktu ke waktu selama 200 tahun. Transisi demografi telah berkembang dan dibagi menjadi lima tahapan, dimulai dari tingginya angka kelahiran dan kematian (1), lalu dilanjutkan dengan menurunnya angka kematian namun kelahiran masih tinggi (2), angka kelahiran berangsur-angsur menjadi turun mengikuti angka kematian (3), lalu berjalan ke tahap angka kelahiran semakin turun drastis sementara angka kematian malah meningkat (4), hingga berada pada tahap terakhir dimana angka kematian menjadi lebih tinggi dibandingkan angka kelahiran (5).
Saat ini Indonesia sedang berada di tahap ke tiga yaitu menurunnya angka kelahiran dan kematian. Kondisi ini dirasa cukup stabil karena proporsi penduduk usia produktif menjadi lebih besar dari pada penduduk non produktif (usia lanjut dan anak-anak). Kondisi ini sering kita sebut dengan istilah bonus demografi. Lebih jelas lagi Badan Pusat Statistik (BPS) telah memproyeksikan bonus demografii akan berlangsung dari tahun 2010-2035. Tentu saja menjadi kesempatan emas bagi bangsa ini apabila didukung dengan perencanaan pembangunan nasional yang telaten dan bergairah. Sehingga bukan tidak mungkin Indonesia akan memenangkan persaingan global di era revolusi industri 4.0 ini.
Namun disisi lain, transisi demografi yang terjadi saat ini ternyata juga mengundang datangnya transisi yang lain, yaitu transisi epidemiologi. Transisi epidemiologi menurut Badan Litbangkes (Penelitian Pengembangan Kesahatan) Kementerian Kesehatan adalah pergeseran beban penyakit dari penyakit menular (PM) menjadi penyakit tidak menular (PTM). Perbandingan antara PM dan TPM tahun 1990 dan 2017 seolah menjadi cambuk kesehatan bangsa ini. Pada tahun 1990, persentase PM (51,30 %), PTM (39,8 %) dan cedera (9 %). Sedangkan tahun 2017, persentasenya menjadi PTM (69,9 %), PM (23,6 %) dan cedera (6,5 %).
Melihat persentase PTM yang tinggi, terdapat jenis PTM yang paling banyak di derita oleh masyarakat seperti stroke, kanker, gagal ginjal, gagal jantung dan diabetes. Sedangkan PM seperti HIV/AIDS, tuberkolusis dan malaria saja belum sepenuhnya bisa teratasi ditambah lagi dengan PTM yang sampai saat ini terbukti meningkat signifikan dan menjadi faktor penyebab utama kematian di Indonesia. Lantas keadaan seperti ini membawa Indonesia tengah dihadapkan pada beban ganda penyakit.
Fokus Pencegahan Penularan HIV/ AIDS
Kalimantan Barat sebagai bagian dari Indonesia tidak tinggal diam menghadapi fenomena beban ganda penyakit ini. Baru-baru ini upaya yang dilakukan oleh Pemprov Kalbar adalah dengan cara pengedukasian melalui pemilihan Duta HIV/ AIDS Kalbar 2019. Acara ini merupakan gelaran ke sembilan dalam rangka memutus rantai penyebaran virus mematikan itu. Fokus kepada HIV/ AIDS sendiri merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap kasus HIV/ AIDS di Kalbar yang masih sangat tinggi. Terlebih lagi belum lama ini tanggal 1 Desember 2019 yang diperingati sebagai hari HIV/ AIDS sedunia. Harapannya masyarakat mengetahui bahaya penyakit yang belum diketemukan obatnya ini, sehingga bisa menghindari perbuatan-perbuatan menyimpang.
Acara yang diselenggarakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) ini, melibatkan generasi milenial di rentang usia 15-24 tahun. Mulai dari peserta dan finalis duta HIV/ AIDS hingga tempat pelaksanaannya yang dilaksanakan di Universitas Tanjungpura (UNTAN). Hal itu bukan berarti tidak memiliki maksud lain, pasalnya di Kalbar ini terdapat hampir 40 persen kasus HIV/ AIDS di derita dari golongan usia 15-24 tahun.
Lebih lengkap lagi Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar memaparkan ada 7.551 positif mengidap HIV dan 4.541 postif pengidap AIDS. Lalu dari data itu 38, 35 persennya merupakan remaja dalam kategori umur 15-24 tahun. Remaja yang digadang-gadang sebagai penerus cita-cita Ibu Pertiwi ini bisa saja menambah persentase pengidap postif HIV/ AIDS, apabila tidak dilakukan pengedukasian yang mendalam tentang bahayanya penyakit ini.
Sebenarnya acara yang di helat sejak tahun 2010 itu dapat dikatakan cukup kreatif dan inspiratif. Namun akan menjadi sia-sia apabila tidak ada tindak lanjut dan peran nyata dari sang Duta terpilih maupun peserta dan berbagai pihak yang terlibat. Harapannya sang Duta terpilih tidak hanya paham teori namun juga mahir dalam praktik di lapangannya.
Misalnya terus menularkan informasi-informasi seputar HIV/ AIDS, edukasi lanjutan tentang cara pencegahannya kepada lingkungan sekitarnya hingga memotivasi orang yang sudah tervonis positif HIV/ AIDS. Begitu pula dengan peserta lain yang diharapkan terus berkontribusi nyata. Bukan berarti tak mendapat penganugerahan sebagai Duta, lantas tak meneruskan teori-teori yang telah ditawarkan pada malam pemilihan itu. Sejatinya pemenang adalah yang istiqamah dalam menerapkan teori ke kehidupan sehari-hari. Dengan begitu setidaknya Ibu Pertiwi masih bisa tersenyum melihat generasi penerusnya masih ada yang peduli terhadap kesehatan dan penyakit yang melanda negeri kita ini.
Bisa Fokus Selain HIV/ AIDS
Kita semua sepakat jika kasus HIV/ AIDS ini belum sepenuhnya teratasi. Ikhtiar terhadap kasus HIV/ AIDS yang merebak di Kalbar saya rasa sudah cukup relevan. Pemerintah yang tak henti-hentinya menggencarkan sosialisasi serta beberapa stakeholder peduli dengan berbagai wacana yang telah diaktualisasikan.
Disisi lain, masih berserah dirinya kita terhadap usaha yang telah dituangkankan untuk memutus mata rantai HIV/ AIDS, kita dihadapkan atas munculnya fenomena beban ganda penyakit. Sejatinya kita sudah paham bahwa penyakit yang akhir-akhir ini sedang naik daun seperti stroke, kanker, jantung dan diabetes sudah ada sejak dulu. Kakek, nenek, orang tua atau kerabat kita terkadang pun mengidap penyakit yang disebut sebagai penyakit degenratif itu. Bahkan hingga menjemput ajal.
Sekarang ini penyakit degeneratif itu nampaknya mulai merebak cepat seiring dengan pola hidup kita yang keliru. Penyakit itu timbul akibat dari gaya hidup modern yang tidak sehat seperti malas beloahraga, merokok, mengkonsumsi makanan cepat saji atau junk food hingga pola makan yang kurang teratur.
Penelitian empiris dari BPS menyebutkan bahwa hanya tiga dari sepuluh orang Indonesia yang aktif dalam berolahraga per minggunya. Jangankan olahraga, berjalan kaki saja malas. Kita perhatikan secara kasat mata saja apabila pergi ke warung yang jaraknya 100 meteran saja terkadang masih menggunkan motor. Padahal tubuh kita ini perlu juga untuk berkeringat dan bergerak agar metabolisme dapat berjalan dengan lancar.
Sementara itu World Health Organization (WHO) juga mengungkapkan bahwa penduduk dunia sebesar 15,2 juta jiwa pada 2016 terbunuh oleh penyakit degeneratif. Belum lagi pembiayaan penyakit degeneratif seperti jantung, stroke dan kanker ini memakan ongkos kesehatan dan pengobatan dari BPJS Kesehatan paling banyak. Apabila ditaksir totalnya mencapai 12,3 triliun rupiah per Agustus 2019. Sehingga mungkin saja, kenaikan iuran BPJS Kesehatan merupakan imbas dari adanya penyakit degeneratif itu sebagai akibat dari ulah kita sendiri yang belum bisa menjaga pola hidup sehat.
Contoh kasus di atas seyogyanya menjadi bahan perhatian dan evaluasi bagi pemerintah pusat maupun daerah. Transisi penyakit yang ternyata membuat masyarakat semakin tak sehat ditambah dengan negara yang akan semakin babak belur alangkah eloknya diambil langkah-langkah khusus guna mencegah bahkan memutus beban ganda penyakit ini. Berat memang, namun paling tidak mengurangi sedikit demi sedikit penderitaan bangsa ini.
Sosialisasi kepada masyarakat terkait pola hidup sehat pun perlu dtingkatkan, bantuan berupa makanan sehat dan bergizi seimbang sangat diharapkan entah itu secara cuma-cuma atau diadakannya pasar murah dengan harga bersahabat untuk rakyat. Bila perlu acara-acara bertajuk seperti pemilihan Duta HIV/ AIDS sangat menarik untuk disiarkan. Harapannya generasi milenial saat ini menjadi tahu dan mau menjaga pola hidup sehat dan memengaruhi sekitarnya. Karena ini akan cukup efektif mengingat negara kita sedang menikmati keadaan bonus demografi.
Selanjutnya masyarkat pun harus ikut mendukung program-program pemerintah yang bertujuan mengarahkan kita menjadi lebih sehat.
Paling tidak dimulai dari diri sendiri yang selalu aktif berolahraga, menjaga pola makan, mengurangi konsumsi rokok dan sebagainya. Apabila memiliki terobosan-terobosan dan cara pencegahan penyakit yang marak terjadi saat ini, sangat dianjurkan untuk dikabarkan kepada aparat pemerintahan di bidangnya amupun antar sesama. Toh tak ada ruginya kita saling berbagi. Sebab kalau bukan kita siapa lagi ? Karena sehat itu mahal harganya.
*Penulis adalah Staff Seksi Statistik Produksi BPS Kabupaten Sekadau





