|

TMP Sekayam Monumental Perjuangan di Perbatasan

Taman Makam Pahlawan (TMP) Balai Karangan.[suarakalbar/Agus]
Sekayam (Suarakalbar) - Taman Makam Pahlawan (TMP) Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Salah satu bukti di kecamatan sekayam ada kontak senjata dimasa konfrontasi tahun 62 silam.⁣

Disini, puluhan jasad pejuang yang gugur membela kedaulatan Indonesia sejak tahun 1962 sampai 1968 dimakamkan. Tempat ini menjadi fakta sejarah pengorbanan dan perjuangan mereka.⁣

"TMP ini adalah tempat monumental yang harusnya menjadi pengingat bagi kita bersama bahwa untuk mempertahankan dan membela Indonesia itu perlu perjuangan berat," kata Komandan Satgas Pamtas Yonif Mekanis 643/Wns Letkol Inf. Dwi Agung Prihanto usai memimpin upacara Peringatan Hari Pahlawan di TMP Balai Karangan, Minggu (10/11/2019).⁣

Menurutnya, TMP Balai Karangan merupakan tempat yang selalu bisa memberikan semangat dan motivasi untuk terus membela NKRI. Ia berharap, TMP ini dapat menjadi tempat bagi masyarakat khususnya generasi muda mengenang pengorbanan jasa pembela Indonesia.⁣

"10 November ini adalah momentum tepat bagi kita bersama untuk menguatkan komitmen demi menjaga keutuhan NKRI," ujar Dwi Agung.⁣

Upacara Peringatan Hari Pahlawan di TMP Balai Karangan yang diprakarsai Satgas Pamtas Yonif Mekanis 643/Wns diikuti masyarakat, Veteran, jajaran TNI, Polri, CIQS dan ASN di perbatasan, unsur Muspika Sekayam dan Entikong, pelajar serta keluarga pejuang.⁣

Anggota TNI menamburkan bungan saat ziarah ke Makan Pahlawan Balai Karangan.[suarakalbar/Agus]


Salah seorang keluarga pejuang yang ikut dalam Peringatan Hari Pahlawan di TMP Balai Karangan hari ini yaitu Rudolf Sijabat. Ia merupakan anak Pelda Firman Saragih dari Yonif 310 yang gugur pada tahun 1968 saat Operasi Penumpasan PGRS/Paraku. Bersama kerabatnya, Rudolf sengaja datang dari Jakarta ke TMP Balai Karangan untuk menziarahi makam ayahnya di Hari Pahlawan ini.⁣

Di depan pusara ayahandanya, Ia kembali mengenang masa 51 tahun yang lalu saat keluarganya mendapat kabar sang ayah gugur di medan pertempuran. Ketika itu Rudolf baru lulus SD.⁣

"Waktu itu Kakorum Letda Amin datang kerumah, menjelaskan bahwa Bapak sudah gugur dan dimakamkan di Balai Karangan. Waktu itu saya masih kecil, belum terlalu mengerti lah, Ibu saya yang waktu itu sedih sekali," kenang Rudolf.⁣

Rudolf menuturkan, Pelda Saragih menjadi prajurit sejak tahun 1950. Meski harus ditinggal meninggal saat masih kecil, pria 64 tahun ini mengaku bangga karena sang ayah gugur demi mempertahankan Indonesia.⁣

"Bapak itu baik sekali. Bapak itu sudah lama dinas di TNI, kebetulan waktu itu ditugaskan kesini. Sebagai anak saya bangga, Bapak saya bisa berbakti untuk nusa bangsa sampai akhir hayatnya," tutup Rudolf.⁣


Penulis : Agus Alfian⁣
Editor: Diko Eno⁣
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini