|

Capaian Kebuntingan Sapi di Kalbar Capai 101 Persen


Kepala Dinas Pangan peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar, Ir.Muhammad Munsif
Pontianak (Suara Kalbar) - Secara nasional Indonesia saat ini masih import terutama sapi lebih kurang 350 sampai 400 ribu ton.

Di Indonesia sendiri sudah banyak sapi yang dikenal oleh dunia seperti sapi Madura, Bali, sapi Po dan Aceh dan lainnya .
Selama ini di Kalbar cocok mendatangkan sapi dari Bali dan Sapi lokal Madura.

Sedangkan Kalbar masih mendatangkan sapi dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lebih kurang setiap tahun memasukan 25 sampai 30 ekor sapi dari luar daerah Jatim dan Kalteng.

Kepala Dinas Pangan peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar, Ir.Muhammad Munsif mengatakan Provinsi Kalimantan Barat mempunyai tugas untuk mewujudkan swasembada daging dan indikatornya adalah kebutuhan di daerah bisa terpenuhi dari produksi peternak dari daerah sendiri.

"Ini bagian dari statregi nasional yang dicanangkan oleh kementrian pertanian bahwa satu tahun Indonesia di harapkan bisa melahirkan 3  juta ekor sapi secara nasional. Karena target kelahiran Upsus Siwab Kalbar 2019 sebesar 9.800 ekor. Realisasi per 31 Okt 2019 susah sebesar 9.943 ekor atau 101.46 persen," ungkap Munsif kepada wartawan.

Menurutnya di Kalbar hanya 20 ribu dan ditargetkan paling tinggi di antara provinsi se Kalimantan dan capaiannya saat ini bagus dan sampai bulan November capain kebuntingan sudah melebihi 101 persen.

"Di Kalbar sendiri sampai akhir Desember bukan hanya kebuntingan tapi diikuti dengan kelahiran bisa mencapai lebih dari 100 persen. Itu salah satu strategi yang dipilih yang paling rasional yakni menggunakan teknologi terkini  inseminasi buatan," tuturnya.

Ia menjelaskan terdapat semen beku dari induk terpilih dan di suntikkan pada sapi betina yang mengalami birahi.
"Tentu ini perlu tenaga  terampil disamping mengharapkan perkawinan alami. Kawin alami tentu kelahirannya tidak bisa di prediksi karena posisi kawin alamnnya, tapi kalau dengan inseminasi ini bisa  dikendalikan dan direncanakan," paparnya.

Meski tidak menutup kemungkinan ada intruksi sapi dari luar dan lewat persilangan atau kawin suntik sehingga dihasilkan bayi lahir itu adalah sapi silangan yang akan mendekati bentuk sapi import.

Sejauh ini di Kalbar belum memiliki proyek membagikan bibit ternak seperti OPD lain karena dana terbatas adapun dalam jumlah kecil yakni hanya bisa memasukan sapi indukan 30 ekor.

"Dana dari APBN hanya mendukung program inseminasi buatan, dan kita juga mendukung akselerasi operasional dari pada inseminasi buatan itu karena tidak semua di tanggung pusat, tapi kita masih ada dana untuk mendapat indukan setahun 30 ekor," urainya.

Munsif menambahkan di Kalbar sendiri penempatannya dengan konsep kawasan dan tidak di bagi rata  dan kawasan saat ini yang mendapatkan legalitas  payung hukum ada di Kapuas hulu di daerah Jongkong.

Penulis  : Dina Wardoyo
Editor    : Kundori

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini