BNPB Tinjau Korban Gempa di Ambon
![]() |
| Kepala BNPB Doni Monardo telah melihat kondisi pascagempa M 6,5 di beberapa titik di Ambon.[suarakalbar/Hms] |
Jakarta (Suara Kalbar)– Kepala BNPB Doni Monardo telah
melihat kondisi pascagempa M 6,5 di beberapa titik di Ambon pada pagi hari tadi (27/9).
Kunjungan tersebut dilakukan setelah Presiden Jokowi memberikan instruksi
penanganan gerak cepat pascagempa.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan
bantuan dana siap pakai sebesar Rp 1 milyar yang digunakan untuk operasional
penanganan darurat. Selain itu, BNPB juga memberikan bantuan logistik senilai
Rp 515 Juta. Bantuan logistik berupa matras, sandang, perlengkapan keluarga
dan selimut sangat dibutuhkan warga terdampak sesuai dengan hasil kaji cepat.
Selain itu, peralatan digerakkan selama penanganan darurat seperti tenda keluarga,
lampu penerangan portabel dan rumah sakit lapangan.
“Kemarin sudah saya perintahkan kepada Kepala BNPB, Pak
Jenderal Doni, juga kepada TNI-Polri, kemudian kepada Menteri Sosial untuk
bergerak ke lapangan di tempat terjadinya gempa untuk membantu saudara-saudara
kita yang ada di Ambon. Bantuan juga sudah saya perintahkan untuk segera
dikirimkan,” ucap Presiden Jokowi, dikutip dari siaran pers Sekretariat
Presiden (27/9).
“Atas nama pribadi dan pemerintah, saya mengucapkan
dukacita yang mendalam atas musibah gempa yang menimpa saudara-saudara kita di
Ambon,” tambah Presiden Jokowi dalam siaran persnya.
Sementara itu, salah satu poin Kepala BNPB saat konferensi
pers di hadapan media menyampaikan bahwa ketika ada gempa besar terjadi lebih
dari 20 detik, masyarakat harus secara otomatis mencari lokasi aman. Setelah
sekian lama, 2 jam tidak ada gempa susulan yang besar, mereka dapat kembali ke
rumah masing-masing.
“ Jika terlalu lama di tempat pengungsian, dapat muncul
masalah baru seperti makanan, kesehatan, sanitasi dan lainnya,” ujar Doni.
BPBD Provinsi Maluku menginformasikan jumlah korban
meninggal dunia yang telah dilakukan pengecekan ulang per hari ini (27/9),
pukul 10.01 WIT. Data mutakhir korban meninggal dunia akibat gempa M 6,5 pada
26 September 2019 lalu berjumlah 18 orang.
Korban meninggal tertinggi teridentifikasi berada di
Kabupaten Maluku Tengah sejumlah 10 orang, di Kota Ambon berjumlah 7 orang dan
Seram Bagian Barat 2 orang. Sebelumnya BNPB menginformasikan jumlah korban
meninggal sebanyak 23 orang. Kesalahan terjadi saat identifikasi nama korban
yang sebetulnya merujuk pada korban meninggal yang sama.
Gempa yang terjadi di kedalaman 10 km ini juga menimbulkan
korban luka sebanyak 126 orang, dengan rincian Kabupaten Maluku Tengah 108
orang, Seram Bagian Barat 13 dan Kota Ambon 5. Para korban luka-luka telah
mendapatkan perawatan medis pascakejadian.
Sehubungan dengan kondisi pascagempa, masyarakat diimbau untuk
tidak terpancing isu atau berita bohong yang beredar dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pastikan informasi resmi hanya bersumber
dari BMKG yang disebarluaskan melalui kanal informasi yang resmi.
BMKG telah menyatakan bahwa isu akan terjadi gempa besar dan
tsunami di Ambon, Teluk Piru, dan Saparua adalah tidak benar atau berita bohong
(hoax), karena hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi
gempabumi dengan tepat, dan akurat kapan, dimana dan berapa kekuatannya.
Penulis : Rilis BNPB
Editor : Diko Eno






