|

Perayaan HIMAS di Kuala Dua, Diawali Dengan Dua Ritual Adat

Drs. Yoseph
Sekretaris DAD Kecamatan Kembayan
di tempat acara perayaan ritual pembukaan HIMAS
Foto: Nikodemus Niko suarakalbar.co.id

Sanggau (Suara Kalbar) - Tanggal 9 Agustus, merupakan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia atau The International Dayof the World Indigenous Peoples yang ditetapkan oleh Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Bulan Desember 1994.

Tahun 2019 ini, Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) diperingati dan dirayakan oleh JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation) Bruder MTB Kuala Dua di Bori Tajou Obih Edeuap, Dusun Kuala Dua, Desa Kuala Dua, Kecamatan Kembayan, Sanggau, yang diawali dengan Ritual Adat Pembukaan, Kamis (8/8/2019).

Drs. Yoseph kepada suarakalbar.co.id menjelaskan, Ritual Adat Pembukaan Kegiatan Perayakan HIMAS ini dilaksanakan dengan 2 (dua) jenis ritual, yaitu ritual PUMAPE' dan ritual SANGKAL.

"Ketika suatu acara keramaian akan diselenggarakan dan instrumen musik tradisional (Ogua, Kutawak, Kulontak, Gona, Sinsarot) dibunyikan/dimainkan, maka sesuai  tradisi leluhur kita pada jaman dahulu selalu dilaksanakan suatu RITUAL yang menandai dimulainya suatu kegiatan keramaian," paparnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, masing-masing ritual PUMAPE' dan ritual SANGKAL ini mempunyai makna dan tujuan yang berbeda.

1. RITUAL PUMAPE'
Ritual ini dimaknai untuk menghormati segenap makhluk roh yang berada di alam lain termasuk juga roh para leluhur. Pemberitahuan bahwa di tempat ini diselengarakan suatu keramaian. Permohonan agar mereka tidak merasa terganggu dan mengganggu penyelenggaraan acara. Karena segenap makhluk roh itu berada di alam lain, maka secara simbolik, tempat/posisi pelaksanaan ritual Pumape' pada arah matahari terbenam, arah Barat atau agak di belakang.

2. RITUAL SANGKAL
Ritual ini dimaknai sebagai penyampaian tata tertib keramaian yang harus diindahkan oleh semua peserta. Mengingatkan kita semua bahwa para leluhur telah mewariskan dan meletakkan norma-norma kehidupan yang dinamakan hukum adat, adat-istiadat dan rukun adat. Kita semua dipanggil untuk melestarikan dan melaksanakannya demi ketertiban, ketentraman dan keharmonisan dalam hidup bersama sebagai komunitas masyarakat Dayak. Itulah sebabnya, orang Dayak memiliki semboyan "hidup di kandung adat, mati di kandung tanah". Oleh karena itu, posisi ritual berada di depan tempat pelaksanaaan acara/kegiatan dengan tempayan sebagai simbol adat agar dilihat dan diingat oleh seluruh hadirin.


Drs. Yosep (Sekretaris DAD Kecamatan Kembayan)
Editor: Nikodemus Niko
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini