|

Bangunan Puskesmas Belitang Ambruk, Dua Orang Ditetapkan Tersangka

Bangunan Puskesmas Belitang saat Ambruk (Foto:Int)
Sekadau (Suara Kalbar) – Kejaksaan Negeri (Kejari) Sekadau menetapkan dua tersangka  kasus tindak pidana korupsi (tipikor) pembangunan Puskesmas Belitang di Desa Belitang II, Kecamatan Belitang yang ambruk pada 15 Desember 2017 lalu. Kedua tersangka tersebut masing-masing berinisial DIP dan MS.

Plh. Kajari Sekadau, Ristopo Sumedi mengatakan, penetapan tersangka tersebut dilakukan, pada Selasa (16/7). Keduanya ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tindak pidana korupsi tentang dugaan adanya penyimpangan dalam relokasi pembangunan Puskemas Belitang tahun anggaran 2016.

“Belum sempat digunakan, kondisi bangunan Puskesmas Belitang itu sudah ambruk,” kata Ristopo didampingi Tim Penyidik Kejari Sekadau dalam keterangan persnya di Sekadau, Jumat (19/7) pagi.

Menurutnya, kasus tersebut masih terus didalami oleh Kejaksaan Negeri Sekadau. Seperti diketahui Puskesmas tersebut baru dibangun 2016 lalu dengan dana sekitar Rp2,4 miliar. Hanya saja, saat pembangunan sudah selesai yang dicarikan dengan dua termin, yaitu Rp1,5 miliar.

“Akan dilakukan pendalaman untuk mengungkap ada tidaknya kemungkinan penambahan tersangka baru,” ucap Ristopo.

Keduanya, kata Ristopo, merupakan pelaksana pekerjaan atau kontraktor. Dimana, MS merupakan pemilik perusahaan. Sedangkan DIP meminjam perusahaan tersebut untuk melakukan pekerjaan pembangunan Puskesmas tersebut.

“Kami sudah memanggil dan memeriksa sejumlah saksi hingga ditetapkan dua tersangka,” kata dia.

Sementara itu, Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Sekadau, Eddy Purwanto mengatakan, pihaknya sudah memeriksa sebanyak 15 saksi. Para saksi yang dimintai keterangan diantaranya merupakan ahli, dinas, masyarakat hingga kepala desa tempat Puskesmas tersebut dibangun.

“Kemungkinan besar ada penambahan saksi untuk memperdalam kasus tersebut. Termasuk dari saksi ahli sudah kami mintai keterangan dan kami sudah berkoordinasi dengan pihak BPKP untuk melakukan penghitungan kerugian negara,” ungkap Eddy.

Eddy menambahkan, saat ini penghitungan kerugian negara masih proses. Bahkan, pihaknya sudah ke BPKP untuk melakukan penghitungan kerugian negara secara riil.

“Pembangunan gedung itu sebelum difungsikan atau diserahkan itu sudah roboh. Total loss,” bebernya.

Terhadap kedua tersangka belum ditahan. Eddy mengungkapkan, keduanya dinilai kooperatif.

Tim Penyidik, Martha E Siahaan menambahkan, pembangunan Puskesmas Belitang tidak bisa difungsikan dan dari hasil penyidikan adalah total loss. Bahkan, kata dia, dua ahli yang turun ke lapangan memiliki kesimpulan, yaitu kegagalan perencanaan fondasi dan infrastruktur konstruksi.

“Dari keteragan ahli akan diperkuat lagi dari keterangan BPKP untuk penghitungan kerugian negara,” tegasnya.

Penulis: Tim Liputan
Editor: Kundori  
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini