|

PDS Hadiri Ritual Penyelesaian Pelecehan Hukum Adat Dayak

Ritual adat penyelesaian perkara pelecehan hukum adat Dayak.
Foto: Nikodemus Niko / suarakalbar.co.id

Entikong (Suara Kalbar) - Temenggung Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Entikong Gelar Ritual Adat penyelesaian terhadap perkara Pelecehan Hukum Adat Dayak, Jumat (7/6/2019).

Hadir dalam ritual adat yang dilaksanakan di rumah Sekjen DAD Entikong, Dusun Semeng, Kecamatan Entikong ini, Pengurus DAD Entikong, Dewan Pakar DAD Entikong Kornelius Tino, Temenggung Benua Golik Donatus Mustaat, Agustinus Clarus, Ketua Adat Kampung Semeng Hermanus Suherman, serta Fungsionaris Persaudaraan Dayak Serumpun (PDS).

Baca juga: Oknum Pegawai BC Akui Ucapkan Pelecehan Adat Dayak

"Hari ini kita laksanakan ritual adat penyelesaian terhadap perkara Pelecehan Hukum Adat Dayak, dengan tujuan demi kebaikan bersama terutama bagi para pihak yang terkait dengan perkara ini sehingga, dengan dilaksanakannya ritual adat ini, perkara sudah dinyatakan selesai," kata Antonius Angeu, S.IP dalam pengantarnya menjelaskan.

Antonius Angeu (kanan), Agustinus Clarus (kiri)
Menghadiri ritual adat penyelesaian perkara
Foto: Nikodemus Niko / suarakalbar.co.id

Dikesempatan acara ritual adat ini, Agustinus Clarus menyampaikan ucapan terima kasih kepada DAD Entikong dan jajarannya.

"Pada kesempatan ini, saya sampaikan ucapan terima kasih kepada DAD Entikong dan jajarannya termasuk ketemenggungan DAD Entikong, sejak awal sampai hari penyelesaian adat ini telah melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik," ungkapnya.

Baca juga: Pelaku Pelecehan Adat Dayak Akhirnya Terima Putusan Sanksi Adat

Namun ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap pihak BC karena melakukan tuntutan balik menggunakan adat terhadap dirinya, padalah sudah secara lantang oknum pegawai BC mengatakan tidak menghargai hukum adat Dayak.

"Secara lantang oknum pegawai Bea Cukai mengatakan tidak mau menggunakan hukum adat Dayak, namun ini malah menuntut balik menggunakan hukum adat Dayak, namun ya sudahlah, ini sudah kita lalui," sesalnya.

Di tempat yang sama, Sekjen PDS Christo S Lomon menyampaikan, kehadiran PDS di acara ritual adat penyelesaian perkara Pelecehan Hukum Adat Dayak, oleh oknum BC Entikong ini adalah sebuah perwujudan dan tanggung jawab terhadap amanat AD/ART PDS.

"PDS hadir bertujuan untuk memperkuat posisi lembaga adat seperti DAD, MADN, para Temenggung, ikut mengawal dan menegakan segala keputusan adat yang dikeluarkan oleh DAD, MADN, dan para Temenggung, dan dalam segala hal yang menyangkut penegakan harga diri dan jati diri bangsa Dayak," paparnya.

Christo S Lomon (kanan) Sekjen PDS dan Selinus (tengah) WaSekjen PDS

Dijelaskannya, PDS sebagai organisasi sayap INDEPENDEN lembaga DAD dan MADN, secara SUKARELA akan membhaktikan diri untuk mendukung secara MILITAN lembaga DAD, MADN dan alat kelengkapannya beserta para Temenggung.

"PDS juga akan selalu memposisikan diri sebagai ormas yang menempatkan DAD, MADN, para Temenggung sebagai Penasehat dan Pelindung dalam menghadapi tantangan GLOBAL yang smakin berat dan kompleks," lanjutnya.

Kembali ditegaskannya, kata kuncinya adalah PERSATUAN di dalam ORGANISASI dan berSTRATEGI, "maka kami dari PDS memandang perlunya perkuatan terhadap lembaga DAD, MADN dan para Temenggung, yakni salah satunya dengan BERSATU di dalam Persaudaraan Dayak Serumpun (PDS) untuk dapat membangun kesadaran bahwa walaupun bangsa Dayak terdiri dari berbagai SUB SUKU dan berbagai AGAMA, tapi kita adalah Dayak yang Satu Darah, Serumpun, dan Bersaudara," tegasnya.

Darah Dayak adalah TAQDIR, Iman Kepercayaan adalah PILIHAN.
"Salam Dayak satu Darah," ucapnya lantang

Penulis: Nikodemus Niko
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini