|

Aneh, Nek Hatu Ayu Keramat Yang dipercaya Bisa Membesar Dari Ukuran Semula

Nek Hatu Ayu, Keramat yang bisa membesar dari ukuran semula

Sanggau (Suara Kalbar) - Tanah Borneo memang mempunyai banyak sekali tempat keramat yang diakui menjadi situs budaya. Demikianlah halnya Situs Budaya yang berada di Dusun Rantau, Desa Kelompu, Kecamatan Kembayan, Kalimantan Barat ini mempunyai keanehan tersendiri.

Sebagaimana dituturkan oleh Martinus Selemen Juru Kunci Situs Budaya Nenek Hatu Ayu dan Kakek Sultan Kuning kepada suarakalbar.co.id keramat ini diakui sebagai Situs Budaya yang harus dijaga kelestariannya, Selasa (14/5/2019).

Dikisahkanya, pada tahun 1948 silam, berawal dari beberapa warga Dayak Sub Suku Hibun yang waktu itu berada kampung Rantau, pergi berburu di hutan (Hamau), tidak jauh dari kampung, Tradisi Hamau ini kerap dilakukan menggunakan sejata tradisional Dayak dengan membawa anjing buruan. Setelah tiba di lokasi perburuan, tiba-tiba Anjing pemburu menggonggong/menyalak dengan keras dan kuat seperti Anjing menyalak Babi hutan, Rusa, Kijang atau binatang hutan lainya. Setelah ditemui oleh para pemburu, ternyata Anjing hanya menyalak Bongkahan Kayu Belian. Melihat hal tersebut para pemburu akhirnya membubarkan diri karena tidak mengerti maksud dan tujuan Anjing yang sedang mengonggong bongkahan Kayu belian tersebut.
Rangka Prajurit Nek Hatu Ayu

Sepulang berburu, pada malam harinya Kakek Mon atau dikenal dengan panggilan Kakek Mincang sebagai orang yang pertama kali mendapatkan ilham/bermimpi ditemui oleh seorang  Kakek dan seorang Nenek yang mengaku bernama “Kakek Sultan Kuning dan Nenek Hatu Ayu”. Dalam mimpi, Kakek dan Nenek tersebut berpesan  agar tempat anjing pemburu menggonggong/menyalak dapat dijadikan tempat keramat/Pedagi, dan merekalah yang menjadi penguasa Sungai Maja. Kakek tersebut bergelar Sultan Kuning dan Nenek Hatu Ayu.
Mendapat ilham dari mimpi, Kakek Mon atau Kakek Mincang segera menyampaikan kepada penatua kampung Rantau lainnya, dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan membuat ritual adat mentahtakan pedagi tersebut menjadi tempat keramat Kampung Rantau. Kakek Mon atau Kakek Mincang dipercayakan sebagai Penjaga atau juru kunci pertama tempat keramat tersebut.

Ketika Kakek Mon atau Kakek Mincang tutup usia sekira tahun 1970, dibuatkan Pantak dari batang kayu belian yang dulunya digonggong oleh Anjing pada saat berburu. Pantak kakek Mon atau Kakek Mincang tersebut diukir oleh Kakek Kubok atau Abai Monu’ok juga mantan Kepala Kampung/Kepala Dusun Rantau menggantikan Kakek Mincang yang sudah meninggal dunia.
Saat Kakek Kubok menjadi Kepala Dusun Rantau wilayahnya pindah masuk ke Kecamatan Kembayan, Desa Kelompu. Saat itu yang menjadi Demang/Camat di Kembayan adalah Bapak Jumali asal dari Dusun Baharu.

Batu Keramat Nek Hatu Ayu

Pantak Kakek Mon atau Kakek Mincang dari batang kayu belian yang dulunya digonggong oleh Anjing pemburu, sekira tahun 2005 telah dicuri orang/oknum yang tidak bertanggung jawab, yang sengaja hendak menghilangkan bukti sejarah atau situs sejarah ini. Namun keramat lokasi tersebut tetap ada. Di mana hingga kini lokasi tempat keramat tersebut dapat dijumpai sekitar 1 Km dari perkampungan Dusun Rantau arah ke Timur. Di tempat keramat tersebut terdapat berupa 2 buah batu yang berada di tengah teluk dan batu tersebut dapat membesar, hal ini sangatlah aneh karena di dunia ada batu yang bisa membesar dari ukuran semula. Satu buah batu yang berada di hilir Sei Maja bernama Nenek Hatu Ayu dan yang berada di hulu bernama Kakek Sultan Kuning.

"Tempat keranat ini kondisinya cukup terpelihara, dan selalu dikunjugi oleh pejabat hampir setiap tahun," ungkapnya.

Ditanya mengenai hal unik apa pada situs budaya ini, Martinus Selemen mejelaskan, "sudah sejak 5 tahun ini para pejabat baik daerah maupun provinsi, mendatangi tempat keramat ini, artinya situs budaya ini mempunyai keistiwaan dan keunikan, sehingga pantas dikunjungi dan menjadi salah satu altenatif bagi siapa saja yang ingin mempelajari nilai historis pada situs budaya ini" tuturnya.

Sejak Tahun 2015 Panitia renovasi situs budaya ini sudah membuat struktur kepengurusan situs budaya Kakek Sultan Kuning dan Nek Hatu Ayu agar tetap terjaga kelestarian situs budaya ini.

Pondok Pedagi Nek Hatu Ayu

Adapun Pengurus Situs budaya dan juga sebagai penjaga pedagi tersebut yang terdiri dari Martinus Selemen selaku Ketua, Zakeus Joni, S.Pd. selaku sekretaris. M. Padi selaku bendahara sekaligus Ketua Adat,  Daniel selaku Kadus Rantau menjabat sebagai Pembina, Kincun sebagai anggota selaku Ketua RT 1, Sukirman selaku anggota dan Ketua RT 2 dan Y.Salin anggota Panitia dan Ketua RT 3. Aloysius Simbolon A.Md. sebagai Kades Kelompu dan sebagai Temenggung Panco Benuo adalah SL. Ayim. Camat Kembayan Drs. Inosesnsius Nono yang berasal dari Kuala Dua.
Pada hari Senin  tanggal 28 April 2015 pedagi tersebut telah di resmikan oleh Bapak Bupati Sanggau yaitu Bapak Paolus Hadi , SIP, MSi.

Cerita ini dipaparkan oleh Narasumber: Martinus Selemen (Saat menjabat menjabat sebagai Pateh/Wakil Temenggung Panco Benuo di wilayah Desa Kelompu)

Penulis: Zakeus Joni , S.Pd.
Editor: Nikodemus Niko
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini