|

AC menilai pihak BC mempermainkan hukum adat Dayak

Agustinus Clarus, menanggapi adanya surat permohonan pengenaan sanksi adat yang dibuat oleh pihak pegawai Bea Cukai

Pontianak (Suara Kalbar) - Pihak Bea Cukai (BC) saya nilai masih setengah hati memenuhi sanksi adat yang telah diputuskan dan mau mempermainkan kasus ini. Di satu sisi, pihak oknum pegawai Bea Cukai ini tidak mau mengakui hukum adat Dayak, namun sebaliknya malah belakangan ini secara diam-diam membuat surat permohonan kepada DAD untuk pengenaan sanksi adat kepada saya.

Baca juga: Pihak BC dinilai setengah hati memenuhi tuntutan Adat Dayak

Demikian disampaikan oleh Agustinus Clarus (AC) via pesan WhatsApp kepada suarakalbar.co.id,  Sabtu (25/5/2019) menanggapi perkara pelecehan terhadap hukum adat Dayak yang telah diputuskan Temenggung Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Entikong pada Sidang Putusan Adat pada tanggal 17 Mei 2019 lalu.

Baca juga: Pelaku Pelecehan Adat Dayak Akhirnya Terima Putusan Sanksi Adat

"Bukankah sejak awal, sejak dimediasi oleh pihak kepolisisian, saat awal kejadian, Riswandono dengan lantang mengatakan bahwa "demi harkat dan martabat lembaga negara, kasus ini harus segera ditinjaklanjuti melalui hukum negara dan kami menolak diselesaikan dengan hukum adat Dayak," tanggapnya.

Baca juga: Oknum Pegawai BC Akui Ucapkan Pelecehan Adat Dayak

Saya dan beberapa tokoh masyarakat Dayak sudah dua kali menghadap pihak BC, mengajak mereka untuk menyelesaikan masalah ini secara damai, namun mereka tetap meneruskan laporan kepolisian. Dan sampai sekarang perkara ini masih dalam proses hukum. Dalam hal ini saya menilai pihak BC, ingin mempermainkan kasus ini, dan mulai mempengaruhi dan meprovokasi temenggung tertentu untuk mengenakan sanksi adat kepada saya, ujarnya.

Penulis/Editor: Nikodemus Niko
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini