|

Sutarmidji, 'orang yang tak bisa terima perbedaan dan marah, adalah ciri manusia tak cerdas'

Pontianak (Suara Kalbar) - Perbedaan memilih salah satu calon Presiden dan calon Wakil Presiden saat ini menjadi hal biasa yang ditemui di berbagai media sosial dalam menyebar berita.
Masyarakat terbiasa berkomentar tanpa memilah dan menyaring sebuah berita yang belum diketahui benar nara sumber dan media yang jelas, sehingga menjadi sebuah trend baru tanpa perduli fitnah atau bahkan tanpa disadari menjadi salah satu yang menebar hoax.

Masih banyaknya perbedaan pandangan akibat berbeda pilihan masa jelang pemilihan umum yang akan dilaksanakan pada 17 April mendatang menjadi sebuah hal penting yang harus dihilangkan terutama perbedaan pandangan yang menjadi ujaran kebencian yang berujung pada fitnah atau Hoax.

Hal inipun juga terjadi di Kalimantan Barat. Ketua Pengawas Tim Kampanye Daerah Kemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Sutarmidji berpendapat jika orang yang marah karena beda pilihan, tidak bisa menerima perbedaan adalah ciri manusia yang tidak cerdas.
"Harusnya beda pilihan biasa saja, semua demi kepentingan Kalbar, dan kebetulan saja kita ada di tim yang berbeda. Harusnya pengusung nomor 01 menuntut program demikian pula dengan pengusung nomor 02 tuntut calonnya jika menjadi Presiden nanti, dan ini untuk kepentingan Kalbar," ungkapnya kepada suarakalbar.co.id, Selasa (26/3/2019).

Bang Midji, sapaan akrab pria yang pernah menjadi loper koran inipun yakin jika masyarakat Indonesia, khususnya pula di Kalbar dapat memilah dan memahami bagaimana Pemilu damai dapat diterapkan hingga 17 April nanti selesai dilaksanakan.
"Mengapa perbedaan pilihan menjadi seseorang dibenci, kalau mau seperti pendukung nomor satu menuntut program kepada Capres yang didukung, ya silahkan tuntut Capres pilihan dengan program bukan karena berbeda lantas komen yang macam-macam," paparnya.

Mantan Walikota Pontianak dua periode ini  mengaku prihatin ketika ditemui terutama di media sosial, perbedaan pilihan akan Capres, Cawapres maupun perbedaan pandangan akan pilihan yang akan maju dalam Pilkada 2019 membuat masyarakat mudah terprovokasi sehingga mengeluarkan komentar serta pemberitaan yang sama sekali tidak benar dan tidak santun untuk dihaturkan.
"Jangan hanya berbeda pilihan lantas tidak bisa bersatu, jadi jangan ribut. Kalau saya dihina dikomen apapun saya tak papa, jangan Presiden saya, karena Presiden itu simbol negara, salah kalau marah karena beda pilihan," terangnya.

Pada 27 April, Rabu depan, diakui Bang Midji yang baru enam bulan menjabat sebagai Gubernur Kalbar inipun berharap seluruh masyarakat dapat hadir dalam kampanye terbuka yang akan dihadiri langsung oleh Capres Nomor 01, Joko Widodo.
"Kampanye terbuka akan digelar dan silahkan masyarakat hadir. Saya selaku ketua Tim penasihat tentu akan memberikan nasihat kepada Capres Nomor urut 01 agar mewujudkan keinginan masyarakat Kalbar jika ia terpilih kembali selaku Presiden RI lima tahun kedepan," katanya lagi.

Midji menambahkan beberapa point yang akan ia sampaikan salah satunya adalah pembentukan Provinsi Kapuas Raya.
"Beberapa tentu harus disampaikan sehingga Capres saat terpilih nanti memahami kebutuhan masyarakat Kalbar. Saya yakin Jokowi kembali menjadi Presiden Indonesia selanjutnya dan mewujudkan seluruh point kepentingan Kalbar di kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf," pungkasnya.

Penulis  : Dina Prihatini Wardoyo 
Editor.   : Kundori 
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini